MBG Sebagai Faktor Pencegahan Stunting di Sumut

  • 08 Apr 2026 09:23 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Hery Valona B Ambarita, S.Kep., M.Pd., M.Kes. (Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara) saat menjadi narasumber dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 FM 94,3 MHz, Rabu ( 8/4/2026 ) pagi, menyampaikan bahwa berdasarkan data tahun 2024, capaian penanganan stunting di Sumatera Utara tercatat sebesar 22 persen. Data tersebut diperoleh melalui pemantauan rutin yang dilakukan setiap bulan di 33 kabupaten dan kota se-Sumut, sehingga menjadi acuan dalam melihat tren perkembangan angka stunting.

Lebih lanjut Hery menjelaskan bahwa terdapat tiga poin utama yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala meskipun tidak merasa sakit, agar masalah gizi dapat ditangani sejak dini. Kedua, optimalisasi peran Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas dan posyandu dalam memberikan pelayanan maksimal. Ketiga, perlunya peningkatan kesadaran masyarakat, mengingat rendahnya pemahaman masih menjadi tantangan utama dalam upaya penurunan angka stunting.

"Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga berisiko menghambat perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak di masa depan," jelas Hery.

Sementara itu, Donal Simanjuntak , S.K.M., M.K.M. (Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi/KPPG Medan) yang juga menjadi narasumber Dialog Aspirasi Sumut menyoroti peran strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, MBG bukan sekadar pemberian makanan, melainkan sarana edukasi untuk mencegah terjadinya stunting.

"Meskipun intervensi paling efektif dilakukan pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, program MBG yang menyasar anak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang. Anak yang terpenuhi gizinya hari ini akan tumbuh menjadi generasi sehat dan cerdas, serta siap menjadi orang tua yang berkualitas di masa depan," ujar Donal.

Lebih lanjut Donal mengatakan bahwa program ini juga memiliki fokus khusus dalam mencegah anemia pada remaja putri, mengingat kondisi kurang darah merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting pada generasi berikutnya. Selain itu, menu MBG dirancang agar mudah ditiru di rumah untuk membangun budaya makan sehat dalam keluarga.

Donal menambahkan, keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat, serta pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan pangan agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....