Diskusi Lingkungan Dorong Gerakan Kolektif Pemuda Jaga Hutan

  • 02 Apr 2026 06:53 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Pematangsiantar – Diskusi “Pemuda Untuk Hutan, Hutan Untuk Masa Depan” yang digelar KN-LWF Indonesia bersama GMKI Pematangsiantar-Simalungun dan AMAN Wilayah Tano Batak menghasilkan sejumlah rekomendasi penting. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Kotanopan, Pematangsiantar ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian hutan.

Dalam sesi diskusi, Ketua Pengurus Harian AMAN Wilayah Tano Batak, Jhonntoni Tarihoran, menegaskan hutan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat adat. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang budaya, identitas, dan spiritualitas.

“Kerusakan hutan berarti hilangnya ruang hidup, sekaligus ancaman terhadap eksistensi masyarakat adat itu sendiri,” katanya, Selasa 31 Maret 2026.

Perwakilan KN-LWF Indonesia, Mangisi Erlinda, juga menyoroti pentingnya menjaga hutan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan lingkungan, terutama di tengah ancaman deforestasi dan krisis iklim. Ia menegaskan hutan harus dilindungi dari berbagai bentuk kerusakan dan eksploitasi yang tidak bertanggung jawab, serta pemuda harus hadir sebagai agen perubahan dalam isu tersebut.

"Pemuda harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu membangun kesadaran ekologis, menggerakkan aksi nyata. Serta menjadi suara kritis terhadap berbagai kebijakan dan praktik yang merusak lingkungan," katanya.

Ketua GMKI Pematangsiantar-Simalungun, Yova Ivo Cordiaz Purba, menambahkan mahasiswa dan pemuda memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya berpikir kritis. Pemuda juga harus terlibat dalam aksi nyata melalui edukasi, advokasi, dan kegiatan pelestarian lingkungan.

“Isu hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keadilan sosial. Ketika hutan rusak, yang paling terdampak adalah masyarakat kecil. Oleh karena itu, pemuda harus berani bersuara dan mengambil sikap," ujarnya.

Peserta diskusi sepakat persoalan kehutanan tidak dapat diselesaikan secara parsial. Diperlukan sinergi antara masyarakat sipil, organisasi pemuda, dan komunitas adat dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan.

Sebagai hasil diskusi, dirumuskan sejumlah poin penting, antara lain peningkatan kesadaran ekologis, penguatan peran pemuda sebagai agen perubahan, serta dorongan kolaborasi lintas sektor. Selain itu, gerakan nyata seperti kampanye lingkungan dan penanaman pohon juga menjadi langkah yang didorong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....