Mengurai Tantangan Sistemik menuju Indonesia Bebas Korupsi
- 13 Jul 2026 12:12 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Pro 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Senin ( 13/7/2026 ) pagi, mengupas tuntas salah satu isu paling mendasar dalam perjalanan bernegara, yaitu dalam tajuk "Strategi & Tantangan Pemberantasan Korupsi di Indonesia". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua narasumber dari generasi dan latar belakang berbeda yang saling mengisi, yaitu Gading Bendito Simangunsong (Peserta Terbaik 1 Bootcamp Anti Korupsi KPK 2025) yang membawa energi serta perspektif gerakan kepemudaan hulu, dan Dr. Fernanda Putra Adela, M.A. (Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara) yang membedah masalah ini secara sosiopolitik dan struktural. Fokus utama dialog ini adalah mengevaluasi sejauh mana efektivitas trisula pemberantasan korupsi (pendidikan, pencegahan, dan penindakan) yang dijalankan di Indonesia, sekaligus merumuskan cara mengatasi resistensi kultural penyuapan yang masih langgeng di tengah masyarakat maupun birokrasi daerah.
Dari sudut pandang gerakan kepemudaan dan penanaman integritas sejak dini, Gading Bendito Simangunsong membagikan pengalamannya selama mengikuti program bootcamp yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menekankan bahwa tantangan terbesar pemberantasan korupsi saat ini adalah bagaimana mengubah perilaku permisif masyarakat terhadap tindakan koruptif skala kecil (petty corruption), seperti gratifikasi minor atau budaya jalan pintas dalam pelayanan publik. Menurutnya, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton atau pengkritik di media sosial, melainkan harus bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) di lingkungan masing-masing dengan mengampanyekan nilai-nilai kejujuran, menolak keras politik uang (money politics), serta memanfaatkan ekosistem digital untuk memantau transparansi anggaran serta pelayanan publik di daerahnya.
Sementara itu, dari perspektif akademis dan sosiologi politik, Dr. Fernanda memberikan analisis kritis mengenai aspek struktural yang kerap menyuburkan praktik korupsi, terutama di tingkat kepala daerah dan birokrasi lokal. Ia menjelaskan bahwa korupsi di Indonesia sudah bersifat sistemik dan sering kali berkelindan dengan mahalnya biaya politik dalam kontestasi pemilu (high-cost democracy), yang akhirnya memicu dorongan kuat untuk mengembalikan modal ketika menjabat. Dr. Fernanda menegaskan bahwa penindakan berupa penangkapan oleh aparat penegak hukum tidak akan pernah menyelesaikan masalah sampai ke akarnya jika tidak diiringi dengan reformasi partai politik, perbaikan sistem meritokrasi dalam jabatan ASN, serta penguatan institusi pengawas internal pemerintah (inspektorat) agar dapat bekerja secara independen tanpa intervensi kekuasaan.
Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada pundak lembaga penegak hukum semata, melainkan membutuhkan gerakan kolektif (pentahelix) yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Kombinasi antara idealisme serta aksi nyata generasi muda seperti Gading, ditopang oleh analisis taktis dan rekomendasi kebijakan dari kalangan akademisi seperti Dr. Fernanda, menjadi modal penting untuk memutus rantai laten korupsi. Dengan memperkuat pendidikan karakter berbasis antikorupsi di dunia pendidikan dan memperketat celah pengawasan sistematis di birokrasi, diharapkan integritas dapat bertransformasi menjadi sebuah budaya nasional yang kokoh demi mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....