Petani Aceh Tamiang Bagikan Formula Melon Premium kepada Milenial
- 22 Jul 2026 07:53 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Aceh Tamiang – Berawal dari pengalaman merintis budidaya melon sejak tujuh tahun lalu, Chaidir Saleh (62), kini membagikan ilmunya kepada generasi muda melalui Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Rantau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. Program tersebut mendorong regenerasi petani sekaligus pengembangan budidaya melon premium di Aceh Tamiang.
Di kebunnya yang berada di dekat Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7), Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Chaidir membimbing sejumlah anak muda menyiapkan media tanam Melon Golden Alisha. Kebun seluas tiga rante atau sekitar 1.200 meter persegi itu menggunakan sistem budidaya polybag berukuran 50 x 60 sentimeter dengan jarak tanam rapat dan jalur antarbaris selebar 1,5 meter.
"Mereka sedang fermentasi tanah dengan sekam bakar dan pupuk kandang. Cukup digemburkan bagian atas polybag saja," katanya saat memberikan arahan pada Selasa, 21 Juli 2026.
Chaidir menanam varietas Melon Golden Alisha F1 yang dikenal tahan penyakit dan memiliki nilai jual tinggi. Namun, perjalanan menjadi petani melon tidak mudah. Ia mengaku sempat mengalami kegagalan hingga empat kali dan pada panen tahun 2020 hasil melonnya masih hambar sehingga dijual di bawah harga pasar.
Ia kemudian terus belajar secara otodidak untuk menemukan formulasi menghasilkan melon dengan rasa manis. Salah satu yang diterapkannya adalah memperpanjang masa panen dari sekitar 55 hari menjadi 60 hingga 70 hari, disertai perawatan dan pemupukan sejak fase vegetatif hingga panen. Setelah berhasil menemukan formulasi tersebut, permintaan melon terus meningkat, termasuk dari media sosial, pusat perbelanjaan, dan swalayan.
Pada Desember 2024, Chaidir terserang stroke ringan sehingga harus menggunakan kursi roda dan aktivitas bertaninya sempat terhenti. Pertamina EP Rantau Field kemudian melibatkan Chaidir sebagai mentor Kelompok Tani Melon Mutiara dan Sekolah Lapang Pertamina EP Rantau Field untuk membagikan pengalaman budidaya kepada petani milenial.
Selain mengajarkan formula menghasilkan melon yang manis, Chaidir juga memperkenalkan inovasi pengelolaan media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam. Dengan biaya media tanam sekitar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang membuat biaya media tanam per siklus budidaya hanya sekitar Rp400 hingga Rp500, lebih efisien dibandingkan budidaya melon konvensional yang umumnya hanya memanfaatkan media tanam dua hingga empat kali.

Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Rantau Field sebagai upaya mendorong regenerasi petani sekaligus transformasi ilmu budidaya melon.
"Bapak Chaidir Saleh punya pengalaman panjang menjadi petani sehingga akan memberikan materi formula budidaya melon. Nantinya akan ada 12 kali pertemuan Sekolah Lapang yang dimentori Pak Chaidir," ujarnya.
Menurut Iwan, generasi muda di desa akan menentukan masa depan sektor pertanian sehingga perlu dipersiapkan dengan kemampuan yang memadai untuk menjawab tantangan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.
"Program ini bukan sekadar CSR tapi upaya nyata meningkatkan kualitas hidup warga melalui pemberdayaan ekonomi. Kami ingin melon golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....