Bederus atau Tadarussan: Ruang Silaturrahim, Dakwah dan Tradisi Tercapai Tujuan

  • 13 Mar 2026 12:43 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Badan Pelaksana Majelis Adat Sasaq (BP MAS) kembali menggelar diskusi terbuka ruang pemikiran produktif dan visioner yang mengangkat topik “Menakar Tradisi Bederus Muslim Sasaq Dahulu dan Kini, Ruang Eskprsi hingga Simbol Penguatan Soliditas Sosial”, berlangsung Jumat, 13 Maret 2026 melalui Fasilitas Teknologi substansi dan terjangkau Zoom Live Streaming.

Tiga Narasumber yang menjadi pemateri, Prof.Dr.Galang Asmara,MH, Pakar Hukum Universutas Mataram Pemucuk Dewan Adat MAS, Dr.Maksum Akademisi UIN Mataram dan penulis buku Sastra Bangsa Sasaq, serta Drs.Sanusi Penglisir Walipaer Bat/Lobar dan Pendiri Musem Kembulan Budi.

Tiga Narasumber, melempar pemikiran yang substantif tentang “Bederus” sesuai dengan kemampuan empiric dari dimensi budaya, adat, tradisi, filosofis serta kajian akdemis, yang kecendrungannya saling melengkapi dan menyempurnakan, tinggal menunggu konsep paripurna guna diperdalam dalam tahapan pemberian pemahaman dan implementasi, terutama kepada Bangsa Sasaq dan Generasi mudanya. Ini menjadi tugas BP MAS dalam implementasinya, ditunggu.

Menjawab Fenomena yang berkembang di Masyarakat, sebagai sebuah dinamika terhadap semakin maraknya pelaksanaan Bederus di Masjid, lalu memunculkan sikap pro dan kontra seperti di Gili Terawangan adalah respon langsung. Menurut Pelingsir MAS Sanusi, secara esensi Bederus Adalah aktivitas religius Muslim Sasaq dalam sebuah forum berjamaah di Musholla atau Masjid selama Bulan Ramadhan. Mereka saling Simak, pendek Panjang, tipis tebal huruf dan mahraj dengan beragam suara. Akitivtas Religi ini Adalah kegiatan turun temurun Sasaq Muslim dalam mengisi Bulan Suci Ramadhan. Sebuah Kegiatan psoitif di kalangan Anak Muda Muslim Sasaq.

Sanusi tidak sepaham dengan komunitas yang melarang Perempuan guna tampil dalam Bederus hanya karena dikotomi. Perempuan dilarang ngaji dan naik Masjid karena PMS penyakit bulanan.

“Kalau ada paham seperti itu harus dilawan” kata Sanusi yang tinggal di Narmada ini.

“Di Fiqih dibolehkan, kecuali Perempuan yang Menstruasi,” jelasnya.

Masalahnya sekarang Adalah Tradisi Ngayo. Tradisi saling mengunjungi dari Masjid ke Masjid ini, sudah luntur, semoga tidak punah. Hal lain setelah berkembangnya Teknologi, menggunakan Loudseoeker. Inilah yang memunculkan masalah seperti di Gili Terawangan maupun di kalangan Muslim Sasaq sendiri. Tetapi di Kampung Muslim sendiri, Ummat Islam sendiri ada yang merasa terganggu dengan suara loudspeaker. Terhadap masalah ini, makanya diperlukan Surat, Himbauan, Edaran dari Kepala Desa/Lurah,Camat maupun Bupati guna mengantisipasi supaya tidak terjadi Tindakan arogansi, dan sejenisnya.

Prof. Galang Asmara juga mengkritik Tadarussan, yang ternyata dalam pelaksanaannya barus sebatas saling membaca dan mendengar menggunakan loudsepeker, belum sampai tujuan.

“Ada Saudara kita beragama lain juga terganggu,” kata Prof Galang dengan menambahkan bahwa harus dipikirkan juga tentang Lingkungan, segmen warganya dan hal hal lain yang dapat merusak konsetrasni mereka istirahat.

Tujuan Tadarus dan Keteduhan Ummat

Prof Galang menegaskan Tujuan Tadarussan (Bederus) adalah saling menyimak bacaan ayat kitab suci selanjutnya mengerti dan memahami makna apa yang dibaca. Karena eseni tadarusan selain mendengar, menyimak, jadi ndak boleh yang lain tidur, betul betul menyimak, karena memang tujuan itu, apa yang dibaca di mengerti dan dipahami maknanya. Disisi lain, jangan sampai ada yang terganggu Ketika membaca.

”Tidak saling mengganggu, harus ada toleransi,” kata Prof Galang.

Menurut DR.Maksum Tadarusan yang marak di Daerah Seribu Masjid ini, baru sebatas mengeraskan suara. Dengan mengutif pandangan MH Ainun Najib, Suaranya harus pada tatanan logic, etik dan estetik, Adalah hal hal yang masih diterima akal, paham dengan norma dan kebaikan serta keindahan, mengandung 5 T, tajwit, Takarruf, Tajamuk, Takkalum dan Tawazuk.

“Ini baru berhasil dengan baik," jelas DR.Maksum. Dilanjutkan Pelingsir Sanusi. "Kebaikan yang dilaksanakan harus disesuaikan dengan Lingkungan dan Kondisi,“ kata Sanusi melanjutkan dalam Bahasa Sasaq “Sak Semaik Maik” katanya seraya menambhkan tentang Ngayo harus ada revitaliasi.

Rekomendasi Berita