Tiket Pesawat dan Pariwisata Berkelanjutan Magnit ke NTB

  • 28 Feb 2026 20:26 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Sektor pariwisata sejak dulu telah menjadi sandaran perekonomian masyarakat NTB. Tulang punggung perekonomian itu dapat diukur dari besarnya harapan pelaku jasa wisata pariwisata terhadap pergerakan wisatawan ke obyek wisata.

Kunjungan wisatawan ke obyek wisata bukan tanpa alasan. Katakanlah, ketika virus Covid-19 melanda dunia, pergerakan wisatawan menjadi terhambat. Wisatawan baru mau datang ke Indonesia ketika ada keputusan pemerintah membuka kunjungan dan menggelar event. Misalnya, event bertaraf internasional di Kuta Mandalika, Lombok Tengah.

Selain event, tantangan yang harus dilalui agar wisatawan mau datang berkunjung ke NTB berupa kemudahan mengakses tiket pesawat. Kesamaan persepsi menanggapi kondisi tiket pesawat udara yang mahal menjadi modal utama untuk mencari solusi terhadap salah satu pertimbangan wisatawan datang ke NTB. Kenaikan tiket berimbas kepada pendapatan di sektor kerajinan dan kesenian, bisnis makanan dan olah raga.

Kenaikan harga tiket pesawat harus menjadi perhatian antarpihak karena kebutuhan wisatawan cukup beragam, mulai dari biaya menginap hingga biaya mengunjungi objek wisata. Dalam kondisi seperti itulah tiket pesawat harus lebih murah. Organisasi pariwisata harus bersatu dan terus mendorong pemerintah untuk segera menuntaskan persoalan tiket pesawat yang mahal.

Kontribusi semua pihak sangat diperlukan di tengah harga tiket pesawat yang mahal. Pemerintah harus terus mendotong Badan Usaha Milik Negara untuk ikut menyelesaikan persoalan tiket pesawat ke NTB.

Dibutuhkan terobosan yang dari masing-masing Kepala BUMN untuk menyelesaikan persoalan tiket pesawat udara. Jika mengandalkan organisasi pariwisata di daerah maka kondisinya akan terlambat mendapatkan solusi.

Keberpihakan juga harus datang dari anggota DPRD dan DPR RI untuk menyuarakan ini di rapat parlemen setiap saat.

PARIWISATA BERKELANJUTAN

Pelestarian lingkungan menjadi ruh dari konsep kepariwisataan NTB di masa datang. Konsep itu sesuai dengan prinsip Lima-E atau ekologi.

Tema-tema berkelanjutan terus bermunculan di program Pembangunan pada tiap daerah di NTB. Tema berkelanjutan itu juga masuk di program kepariwisataan NTB. Artinya, setiap program pariwisata mengadopsi hal yang ramah lingkungan. Termasuk soal akomodasi dan transportasi.

Penggunaan emisi karbon sejalan dengan isu global. Sehingga bermunculan tren penggunaan kendaraan Listrik. Untuk NTB, Pembangunan kepariwisataan berkelanjutan terimplementasi dalam Kawasan ekonomi pariwisata.

Kontribusi pariwisata berkelanjutan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi di sektor industry. Pariwisata berkelanjutan telah membuka potensi baru seperti pelestarian lingkungan. Optimisme ini berlangsung ditengah tantangan maupun hambatan, yakni menciptakan sistem keamanan wisatawan, dan menekan angka kecelakaan di objek wisata.

Melaui Upaya menekan kondisi itu zero, diperlukan budaya kedekatan dan fleksibilitas atau kemudahan dalam pelayanan public. Sehingga tidak lagi ditemukan kelangkaan air bersih. Upaya tersebut dapat ditempun melalui kolaborasi sesuai prinsip pentahelix. Salah satu contohnya, ritel tak lagi menggunakan kantong plastic untuk kantong belanja.

Keberhasilan dalam keberlanjutan, dapat menjadi narasi bagi promo pariwisata NTB. Selain narasi juga story telling.

Rekomendasi Berita