Wajah Baru Ekonomi NTB di Tengah Tantangan Kemiskinan

  • 21 Feb 2026 12:32 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Nusa Tenggara Barat (NTB ) berada di satu titik penting dalam perjalanan transformasi ekonominya. Struktur lama yang bertumpu pada sektor pertanian masih dominan. Namun di saat bersamaan, industri mikro dan konektivitas digital mulai membentuk wajah baru ekonomi desa.

Dari total 1.180 desa dan kelurahan di NTB, sebanyak 943 desa atau 79,92 persen masih menggantungkan sumber penghasilan utama pada sektor pertanian. Sub-sektor tanaman pangan menjangkau 798 desa. Data ini menegaskan denyut ekonomi daerah tetap berakar pada sektor agraris.

Tetapi desa-desa di NTB tak lagi berjalan sepenuhnya dalam pola lama.

Di balik dominasi pertanian, geliat ekonomi baru mulai tumbuh. Sebanyak 1.155 desa tercatat telah memiliki Industri Mikro dan Kecil (IMK). Bahkan 195 desa berkembang menjadi sentra industri. Konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Lombok Timur.

Industri kecil berbasis lokal ini menjadi jembatan antara produksi primer dan nilai tambah. Hasil pertanian tidak lagi sekadar dijual mentah, tetapi mulai diolah, dikemas, dan dipasarkan lebih luas. Desa perlahan bergerak dari produsen bahan baku menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Transformasi ini diperkuat oleh akses digital yang hampir merata. Seluruh desa dan kelurahan telah terjangkau sinyal internet. Sebanyak 1.139 desa menikmati jaringan 4G dan 5G. Konektivitas ini menjadi fondasi digitalisasi UMKM, pemasaran hasil pertanian, hingga akses informasi harga pasar.

Pertanian yang kuat, IMK yang tumbuh, dan internet yang menjangkau desa kombinasi ini menjadi modal besar percepatan pemerataan ekonomi.

Namun tantangan belum sepenuhnya sirna.

Per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat 654,57 ribu orang atau 11,78 persen dari total populasi. Angka ini turun 4,03 ribu orang dibanding September 2024, dengan penurunan 0,13 poin persentase.

Di sisi lain, garis kemiskinan naik menjadi Rp556.846 per kapita per bulan atau meningkat 3,05 persen. Struktur garis kemiskinan menunjukkan 75,86 persen disumbang oleh kebutuhan makanan. Beras, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, hingga rokok menjadi komoditas penyumbang utama.

Artinya, tekanan harga pangan masih menjadi faktor krusial dalam menentukan laju penurunan kemiskinan.

NTP Menguat, Sinyal Positif dari Petani

Di tengah tekanan tersebut, kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Desember 2025 tercatat 134,14 atau naik 4,50 persen dibanding bulan sebelumnya.

Karena NTP berada di atas 100, kondisi ini menunjukkan petani mengalami surplus. Daya beli dan margin usaha membaik.

Kenaikan terbesar datang dari subsektor hortikultura dengan NTP mencapai 255,85. Disusul tanaman pangan (125,53), peternakan (112,94), perikanan (106,82), dan perkebunan rakyat (102,59). Seluruh subsektor berada pada posisi surplus.

Jika tren ini konsisten dan diiringi penguatan hilirisasi serta stabilitas harga, sektor pertanian berpotensi menjadi lokomotif percepatan penurunan kemiskinan.

Momentum Transformasi Desa

Gambaran besar ekonomi NTB memperlihatkan dinamika yang bergerak perlahan namun pasti. Desa tetap agraris, tetapi mulai terdorong menuju diversifikasi. Kemiskinan menurun, meski sensitif terhadap harga pangan. Kesejahteraan petani membaik, terutama di hortikultura. Digitalisasi membuka ruang nilai tambah.

Ke depan, penguatan hilirisasi pertanian dan agroindustri desa menjadi kunci. Produk hortikultura unggulan perlu masuk ke rantai pasok modern, didukung fasilitas penyimpanan dingin, pengemasan, dan pemasaran digital. Stabilisasi harga pangan juga menjadi strategi penting pengendalian kemiskinan. Di NTB, harga cabai dan beras kerap menentukan daya tahan ekonomi ribuan keluarga.

Pemerintah daerah juga menjalankan Program Desa Berdaya yang menyasar pengentasan kemiskinan ekstrem secara bertahap di 106 desa.

NTB sedang bergerak. Dari desa yang bertumpu pada sawah dan ladang, menuju desa yang terhubung, produktif, dan mandiri. Transformasi ini memang belum selesai. Namun arahnya mulai jelas: memperkuat akar agraris sambil membangun cabang ekonomi baru yang lebih bernilai tambah.

Rekomendasi Berita