Kenapa Kurma Dianjurkan Dimakan Ganjil
- 13 Mar 2026 10:45 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Mengonsumsi Kurma saat berbuka puasa merupakan kebiasaan yang sangat dikenal dalam bulan Ramadan. Selain karena rasanya manis dan mudah dicerna, kurma juga menjadi makanan yang dianjurkan untuk mengawali berbuka puasa. Buah ini mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh sehingga membantu memulihkan energi setelah seharian berpuasa.
Sebagian masyarakat muslim terbiasa mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, seperti satu, tiga, lima, atau tujuh buah. Berdasarkan situs islamqa.info (Islam Question & Answer), riwayat dari sahabat Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak memulai shalat Idul Fitri sebelum menyantap beberapa kurma dalam jumlah ganjil. Riwayat ini menjadi salah satu dasar yang sering dijadikan rujukan mengenai kebiasaan makan kurma dalam hitungan ganjil.
Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa makan kurma dengan jumlah ganjil bukanlah kewajiban. Lebih lanjut laman Islam Question & Answer menjelaskan tidak terdapat dalil syar'i yang secara eksplisit menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam senantiasa berbuka puasa dengan jumlah kurma ganjil tiap hari. Jadi, lebih ditekankan dalam sunnah adalah memulai berbuka dengan kurma atau makanan manis yang mudah dicerna oleh tubuh.
Sementara itu, Berdasarkan jurnal ilmiah yang dipublikasikan dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Bangka Belitung menjelaskan bahwa angka ganjil memiliki makna spiritual dalam ajaran Islam. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik menyatakan bahwa Allah SWT adalah Witr (yang Maha Esa atau ganjil) serta menyukai hal-hal yang berjumlah ganjil. Karena itu, sebagian amalan dalam Islam dianjurkan dilakukan dalam jumlah ganjil sebagai bentuk mengikuti nilai spiritual tersebut.
Dari sisi ilmiah, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Advanced Biochemistry and Biomedical Research juga pernah meneliti perbedaan konsumsi kurma dalam jumlah genap dan ganjil terhadap kadar gula darah. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kadar glukosa darah antara keduanya, sehingga manfaat utama tetap berasal dari kandungan nutrisi kurma itu sendiri.
Dengan demikian, kebiasaan makan kurma dalam jumlah ganjil lebih dipahami sebagai bentuk meneladani sunnah dan nilai spiritual dalam Islam. Meski tidak wajib, mengamalkannya dapat menjadi cara sederhana untuk menghidupkan tradisi yang baik saat berbuka puasa, sekaligus menikmati manfaat kesehatan dari buah kurma.(RRI/Aldi W)