Toleransi di Sumbawa Menguat jelang Nyepi dan Lebaran
- 12 Mar 2026 17:21 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa - Toleransi antarumat beragama di Kabupaten Sumbawa, tetap terjaga dengan baik selama bulan Ramadan tahun ini. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat, terutama karena perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri yang waktunya berdekatan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sumbawa, Kapten Inf (Purn) I Nyoman Mandi, mengatakan suasana Ramadan berlangsung aman dan kondusif. Hal tersebut juga telah menjadi perhatian bersama dalam forum komunikasi lintas agama.
Menurutnya, melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), seluruh tokoh agama dan masyarakat telah sepakat untuk terus menjaga situasi yang harmonis di tengah masyarakat.
“Di Kabupaten Sumbawa sudah disampaikan dalam forum FKUB agar semua pihak selalu menjaga kondusivitas daerah,” ujarnya, Kamis 12 Maret 2026.
Ia menegaskan, selama ini hampir tidak pernah terjadi gesekan antarumat beragama di Kabupaten Sumbawa. Masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan etnis, dinilai memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kerukunan.
Apalagi, tahun ini perayaan Nyepi dan Idulfitri berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Karena itu, sikap saling menghormati dan toleransi antarumat beragama menjadi sangat penting agar seluruh masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
“Selama ini semua umat di Kabupaten Sumbawa menjunjung tinggi toleransi,” katanya.
Sebagai bagian dari tradisi menyambut Nyepi, umat Hindu biasanya menggelar Festival Ogoh-ogoh. Namun, untuk tahun ini kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di Kota Sumbawa, melainkan dipusatkan di beberapa kecamatan. Beberapa wilayah yang tetap melaksanakan Festival Ogoh-ogoh antara lain, Kecamatan Lunyuk, Labangka, dan Rhee.
Menariknya, kegiatan tersebut mendapat dukungan dari masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. Bahkan di Kecamatan Labangka, warga setempat turut membantu pembiayaan kegiatan tersebut.
Hal itu, kata Nyoman Mandi, menjadi bukti nyata kuatnya toleransi antarumat beragama di Kabupaten Sumbawa.
“Warga di kecamatan setempat tidak mempersoalkan pelaksanaan Festival Ogoh-ogoh. Bahkan di Labangka masyarakat ikut membantu pembiayaannya, dan keamanan kegiatan juga sangat terjamin,” jelasnya.
Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk terus menjaga suasana yang harmonis tersebut. Sehingga setiap umat, dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dengan aman dan nyaman.
Sementara itu, Wakil Ketua Forum Kerukunan Lintas Etnis (FKLE) Kabupaten Sumbawa, Denny Wardhana, menilai tingkat toleransi masyarakat Sumbawa tergolong sangat tinggi.
Menurutnya, meskipun sempat muncul riak kecil di tengah masyarakat, situasi tersebut dapat segera diredam melalui komunikasi antar tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Denny menambahkan, masyarakat etnis Sumbawa selama ini dikenal memiliki sikap terbuka dan melindungi etnis lain yang tinggal di wilayah tersebut. Di sisi lain, para pendatang juga diharapkan menghormati adat, adab, dan budaya lokal yang berlaku.
Menurutnya, jika sikap saling menghargai itu terus dijaga, maka potensi konflik dapat dihindari. “Sudah itu saja. Klir masalahnya kalau seperti itu,” katanya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat terus memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi, terutama dalam momentum Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri tahun ini, agar situasi daerah tetap aman dan kondusif. Karena berbeda itu adalah amanat, dan bersatu itu adalah amanat.