Al-Quran Braille: Aksesibilitas Ibadah bagi Penyandang Tunanetra
- 18 Feb 2026 14:42 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Di era inklusivitas kini, penyandang tunanetra memiliki akses lebih luas untuk membaca kitab suci melalui Al-Quran Braille, sebuah naskah Al-Quran yang ditulis menggunakan sistem tulisan Braille dengan titik-titik timbul yang dapat dibaca dengan ujung jari. Berdasarkan laman Serambi Muslim.com, Al-Quran Braille dirancang khusus agar umat Muslim tunanetra dapat melakukan ibadah membaca Al-Quran secara mandiri meskipun tidak memiliki penglihatan fisik.
Sistem Braille sendiri adalah metode penulisan taktil yang memungkinkan orang dengan gangguan penglihatan membaca dan menulis melalui pola titik timbul. Dalam penjelasan Kashmir Life, Braille telah diadaptasi sejak abad ke-19 untuk berbagai bahasa, termasuk Arab, dan diterapkan pada Al-Quran dengan penyesuaian huruf serta tanda baca agar tetap sesuai dengan kaidah penulisan mushaf.
Berdasarkan laman H-Khalili.com, Al-Quran Braille dicetak menggunakan teknik khusus dengan kertas tebal agar titik timbulnya dapat diraba dengan jelas. Setiap jilid mengikuti struktur mushaf standar, mulai dari pembagian surah hingga ayat, sehingga tetap menjaga keutuhan teks suci. Beberapa edisi juga dilengkapi panduan bacaan untuk membantu proses pembelajaran.
Lebih lanjut laman Kashmir Life.net menjelaskan bahwa sistem Braille Al-Quran dirancang agar tetap mempertahankan akurasi fonetik bahasa Arab. Tantangan yang dihadapi antara lain proses produksi yang lebih kompleks dan dibutuhkan pelatihan khusus bagi pembaca pemula. Karena itu, dukungan lembaga pendidikan dan komunitas sangat penting untuk memastikan akses yang merata.
Sebagai wujud nyata komitmen inklusivitas dalam pendidikan dan ibadah. Melalui sistem tulisan taktil yang terstandar, proses produksi khusus, serta dukungan pembelajaran yang memadai. Al-Quran Braille membuka kesempatan bagi penyandang tunanetra untuk membaca dan memahami Al-Quran secara mandiri. Upaya pengembangan dan distribusi yang berkelanjutan menjadi kunci agar akses terhadap kitab suci dapat dirasakan oleh seluruh umat tanpa terkecuali. (RRI/Aldi W.)