Viral ! Tepuk Sakinah, Apa itu?
- 26 Sep 2025 20:37 WIB
- Mataram
KRBN.Mataram: Fenomena “Tepuk Sakinah” saat ini tengah menyita perhatian publik setelah menjadi viral di berbagai platform media sosial. Gerakan sederhana yang menyertakan yel-yel dan tepukan tangan ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi merupakan bagian dari strategi edukatif Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dalam memberikan pemahaman mendalam tentang makna keluarga kepada calon pengantin.
Menurut pernyataan resmi yang disampaikan Kemenag pada Kamis, 25/09/2025 melalui Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Thobib Al Asyhar, Tepuk Sakinah bukanlah suatu kewajiban, melainkan metode kreatif dalam pelaksanaan Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Tujuannya adalah agar peserta lebih mudah mengingat nilai-nilai penting dalam membina rumah tangga yang harmonis.
“Itu hanya ice breaking untuk mencairkan suasana, agar peserta Bimwin bisa lebih fokus dan enjoy dalam menerima materi. Tidak ada kewajiban menghafal tepuk tersebut,” jelas Thobib, dikutip dari laman resmi kemenag.go.id
Dalam implementasinya, Tepuk Sakinah menggabungkan unsur gerak, irama, dan pengulangan lirik sederhana yang mengandung pesan-pesan dasar tentang pernikahan, seperti pentingnya cinta, saling menghormati, menjaga, serta kemampuan untuk menyelesaikan konflik melalui musyawarah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menambahkan bahwa pendekatan ini memudahkan peserta memahami dan mengingat pilar-pilar utama keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (SAMARA) secara menyenangkan.
Memuat Nilai-Nilai Keluarga Islami
Dalam struktur Tepuk Sakinah, terdapat lima pilar utama yang dikemas dalam bentuk yel-yel edukatif:
1. Zawaj – pasangan hidup
2. Mitsaqan Ghalizan – janji yang kokoh
3. Mu’asyarah Bil Ma’ruf – saling mencintai, menghormati, dan menjaga
4. Musyawarah – menyelesaikan masalah bersama
5. Taradhin – saling ridha dan menerima
Nilai-nilai tersebut disisipkan dalam lirik dan gerakan agar peserta lebih mudah mengingatnya bahkan setelah pelatihan selesai. Hal ini sekaligus menjadikan Tepuk Sakinah sebagai sarana reflektif yang dapat diulang kapan saja sebagai pengingat akan komitmen pernikahan.
Menjawab Tantangan Angka Perceraian
Dalam konteks yang lebih luas, inovasi ini merupakan bagian dari upaya Kemenag untuk menekan angka perceraian di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2024, terdapat lebih dari 466 ribu kasus perceraian, sementara jumlah pernikahan tercatat mencapai 1,47 juta. Fakta ini menunjukkan pentingnya pendidikan pra-nikah yang tidak hanya formalitas, tetapi menyentuh aspek emosional dan spiritual pasangan.
Melalui pendekatan yang menyenangkan seperti Tepuk Sakinah, Kemenag berharap nilai-nilai keluarga tidak hanya disampaikan, tetapi juga diinternalisasi dengan baik oleh calon pengantin.
Viral, Namun Tetap Substansial
Video-video Tepuk Sakinah yang beredar di media sosial memperlihatkan antusiasme para peserta saat mengikuti bimbingan. Meski demikian, Kemenag menegaskan bahwa viralitas bukanlah tujuan utama, melainkan dampak positif dari penyampaian materi yang tepat sasaran.
“Pesan utamanya tetap pada pembentukan keluarga yang sakinah. Kalau itu bisa lebih mudah ditanamkan lewat yel-yel dan tepukan, kenapa tidak?” ujar Abu Rokhmad dalam salah satu sesi wawancara.
Kemenag juga mengingatkan bahwa metode kreatif ini harus tetap disertai dengan penyampaian materi yang komprehensif, sehingga calon pengantin tidak hanya siap menikah, tetapi juga siap menghadapi dinamika rumah tangga ke depan.