Kuda Menari di Sulawesi Barat

  • 10 Okt 2025 17:51 WIB
  •  Mamuju

KBRN, Mamuju : Iring-iringan kuda yang telah dihias dengan berbagai aksesoris seperti kalung perak, penutup muka dan kacamata kuda, berjalan sambil menari seirama dengan tabuhan rebana yang bertalu-talu, menjadi salah satu pemandangan yang menarik disaksikan saat berada di tanah Mandar Sulawesi Barat.

Tradisi menakjubkan yang dimiliki masyarakat Mandar ini dikenal dengan sebutan Sayyang Pattuqduq. Dalam bahasa Mandar, Sayyang berarti kuda dan Pattuqduq berarti menari.

Maka Sayyang Pattuqduq diartikan sebagai sebuah tradisi dengan mengarak anak-anak yang telah khatam Quran menggunakan kuda yang menari. Tradisi seperti ini biasanya akan dilaksanakan dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurut beberapa sumber, Sayyang Pattuqduq diperkirakan bermula pada saat Islam masuk ke tanah Mandar sekitar abad ke-16. Awalnya tradisi ini hanya dilakukan di lingkungan istana dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW lalu kemudian berkembang ke lingkungan luar istana. Lantas pemilihan kuda sebagai sarana pertunjukkan, dikarenakan pada masa itu kuda merupakan alat transportasi utama.

Dikisahkan bahwa ketika Islam telah tumbuh dan berkembang di tanah Mandar, pesantren-pesantren yang bermunculan mulai mewajibkan para santrinya untuk dapat melatih kuda hingga patuh.

Oleh karenanya para santri mulai melatih kuda-kudanya untuk dapat menari mengikuti irama tabuhan rebana dan senandung sholawat. Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Sayyang Pattuqduq mulai berkembang dan digunakan untuk merayakan keberhasilan setiap anak yang telah menamatkan / khatam Quran di Sulawesi Barat.

Selain sebagai upaya untuk melestarikan tradisi, hal ini juga dianggap dapat memotivasi anak-anak untuk segera menamatkan bacaan Qurannya.

Kuda-kuda yang digunakan dalam tradisi Sayyang Pattuqduq ini adalah kuda-kuda yang telah dilatih sebelumnya. Pelatihan biasanya berlangsung selama 6 hari dan diawali melalui sebuah ritual dengan mengikatkan tali pada kepala kuda lalu membelainya dari ujung kepala hingga ekor.

Kuda-kuda yang telah dihias dengan berbagai aksesoris kemudian akan dinaiki oleh seorang wanita dewasa yang disebut Pissawe. Di belakang Pissawe duduk anak-anak yang telah khatam Quran. Anak perempuan akan menggunakan kerudung pandawara sedangkan anak lelaki akan menggunakan sorban dan gamis.

Pissawe sebagai simbol harus menaiki kuda tanpa menyentuh tanah, oleh karena itu biasanya kuda yang akan dinaiki disiapkan di dekat tangga kemudian Pissawe akan dibantu oleh keluarganya untuk naik ke atas kuda. Di atas kuda, Pissawe terlebih dulu harus berdiri menghadap ke arah matahari lalu kemudian duduk dengan anggun diatas kuda.

Posisi duduk dengan anggun ini harus terus dipertahankan sepanjang perjalanan yang menjadi simbol keanggunan dan kekuatan perempuan Mandar.

Arak-arakan akan dipimpin oleh seorang Sawi yang akan memberikan instruksi kepada kuda untuk menari. Sawi akan didampingi oleh dua orang Passarung yang biasanya dari kerabat anak yang khatam Quran.

Arak-arakan ini juga akan diiringi oleh para Parrawana yang akan terus melantunkan sholawat sembari menabuh rebananya. Sesekali juga akan terdengar untaian Kalindaqdaq berisi pesan agama yang dilantunkan seperti sebuah pantun yang jenaka.

Rangkaian ini menjadi daya tarik tersendiri untuk menyaksikan tradisi Sayyang Pattuqduq, tidak hanya bagi warga lokal pun juga bagi wisatawan dari luar daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....