Kalindaqdaq, Tutur Lembut dan Sopan Masyarakat Mandar
- 07 Okt 2025 19:21 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Di tengah masifnya arus globalisasi yang menghadirkan sesuatu yang baru di seluruh sendi-sendi kehidupan, ada sekelumit kekhawatiran akan tergerusnya nilai-nilai sakral kearifan lokal yang merupakan warisan para leluhur terdahulu. Tanah Mandar di Sulawesi Barat layaknya peradaban di daerah lain pun menyimpan sejuta budaya lokal. Salah satu yang terlintas untuk dikupas adalah Kalindaqdaq.
Tidaklah elok kiranya membincang kearifan lokal Mandar tanpa bahasan tentang Kalindaqdaq yang merupakan untaian kalimat-kalimat indah berupa cetusan dari perasaan dan pikiran. Kalindaqdaq digunakan kala menyampaikan keinginan melalui perumpamaan layaknya sebuah pantun. Sindiran-sindiran halus dalam kemasan pilihan kata yang tepat, dengan irama yang tetap, hingga terbentuk susunan bait bait yang sarat akan makna, serasa menghujam lawan bicara hingga tertegun terdiam. Kalindaqdaq dalam pengucapannya memiliki ritme yang menghidupkan, setiap penggalannya diulang secara teratur dengan bunyi yang keras dan lembut.
Pun juga, Kalindaqdaq terkadang bernuansa bak sebuah puisi rayuan, atau narasi seorang orator yang membakar semangat perjuangan pasukannya, seperti pada zaman para raja perihal perebutan wilayah dalam meneguhkan kekuasaan di tanah Mandar. Kalindaqdaq sebagai sebuah karya sastra lintas generasi yang tetap lestari, menjadi bukti betapa majunya peradaban moyang masyarakat Mandar.
Kalindaqdaq sebagai eksplorasi kreativitas tak hanya menjadi produk seni yang bebas nilai, namun Kalindaqdaq menjadi sebuah sarana memelihara tatanan nilai yang hidup ditengah kehidupan bermasyarakat. Kalindaqdaq mengandung pesan-pesan moral yang membangkitkan rasa kesucian dan menjadi pedoman hidup dalam menentukan sikap dan tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat.
Saat ini Kalindaqdaq akan dijumpai pada ritual adat seperti lamaran dan khatam Al Quran (mappatammaq) tatkala menunggangi kuda menari (sayyang pattuqduq). Penutur Kalindaqdaq dengan sedikit teriak akan memulai mengirimkan kalimat-kalimat puitisnya ketika sayyang pattuqduq sejenak berhenti menari, mengangguk, dan menggoyangkan kepala mengikuti tabuhan rebana dari para pemain rebana (parrawana).
Kalindaqdaq yang berupa syair lembut yang indah menjadi bukti bahwa masyarakat Mandar terdahulu merupakan masyarakat yang senantiasa menjaga lisannya dengan bertutur kata yang baik, indah, sopan, dan penuh makna yang mendalam. Sebab masyarakat Mandar merupakan masyarakat yang cerdas baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....