Sandeq Perahu Warisan yang Sakral

  • 28 Sep 2025 08:51 WIB
  •  Mamuju

KBRN, Mamuju : Bagi Masyarakat Mandar yang mendiami provinsi Sulawesi Barat, perahu Sandeq bukan hanya memiliki nilai historis yang sebatas sebagai warisan leluhur yang menunjukkan betapa hebatnya kemampuan maritim para pendahulu mereka di masa lampau, pun juga perahu Sandeq ini dianggap memiliki nilai filosofis yang mengandung nilai moral sehingga patut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Boleh jadi, keyakinan inilah yang membuat sampai hari ini proses pembuatan perahu Sandeq senantiasa menjadi sesuatu yang sakral bagi masyarakat Mandar. Secara umum, proses pembuatan perahu Sandeq terdiri atas empat tahapan utama yaitu persiapan alat, pemotongan kayu, pembuatan balakang (calon perahu), dan pembuatan perahu.

Pembuatan perahu Sandeq bagi masyarakat Mandar juga hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap baik. Penentuan waktu baik dan waktu buruk pun biasanya dilakukan dengan berdasar pada perhitungan kuno. Biasanya waktu yang dianggap baik untuk melakukan penebangan pohon adalah di saat purnama, sementara waktu baik untuk pemotongan kayu adalah saat fajar dan ketika angin berhembus.

Untuk membuat perahu Sandeq dibutuhkan keterlibatan dua orang ahli yaitu yang pertama ahli kayu yang akan bekerja di tengah hutan dan setidaknya harus punya kemampuan untuk memilih dan mengetahui bahan yang berkualitas baik untuk dibuat menjadi perahu.

Ahli yang kedua yaitu ahli pembuat perahu atau yang biasa disebut Panrita Lopi. Ahli ini biasanya akan bekerja di pesisir dan memastikan bahan yang telah ada dapat menghasilkan perahu Sandeq yang baik.

Masyarakat Mandar juga masih ada yang meyakini bahwa sebelum perahu dipergunakan melaut untuk pertama kali, sebaiknya didahului dengan proses yang disebut Makkuliwa Lopi atau jika diartikan yaitu Selamatan atau syukuran perahu.

Berdasarkan catatan dari buku karya Muhammad Ridwan Alimuddin berjudul "Orang Mandar Orang Laut", ada beberapa jenis makanan yang perlu disiapkan dalam ritual Makkuliwa Lopi seperti, nasi ketan, bubur kacang hijau, dupa dari akar, pisang raja, pisang kepok, pisang susu, pisang ambon, telur ayam rebus, kue cucur, dan bubur nasi yang dicampur santan dan gula merah.

Seluruh makanan yang telah disiapkan tadi akan disusun diatas piring sesuai aturan yang diyakini dalam tradisi masyarakat Mandar. Seluruh makanan tersebut akan diletakkan diatas perahu atau disekitaran perahu, yang selanjutnya seluruh orang yang hadir akan menaiki perahu sembari membacakan doa kepada tuhan memohon keselamatan.

Prosesi ini biasanya dipimpin oleh seorang tokoh agama dan akan diakhiri dengan prosesi menyantap hidangan yang telah disediakan tadi secara bersama-sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....