Manette' Lipa Sa'be Khas Mandar

  • 16 Okt 2024 21:45 WIB
  •  Mamuju

KBRN, Mamuju :Ada begitu banyak hal menarik yang dapat dikunjungi wisatawan yang datang ke Sulawesi Barat. Keindahan panorama alam baik pegunungan maupun keindahan bahari siap untuk dieksplorasi lebih jauh lagi oleh para pengunjung yang gemari mendatangi tempat-tempat wisata. Aneka kuliner khas pun siap memanjakan lidah wisatawan yang tertarik untuk mencicipi rasa makanan khas Mandar yang beraneka ragam jenisnya. Tidak ketinggalan juga bagi wisatawan yang menyukai kegiatan wisata budaya, Tanah Mandar menyediakan kesempatan bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi situs peninggalan purbakala yang terdapat di beberapa tempat di Sulawesi Barat, serta menyaksikan langsung proses produksi beberapa benda yang diwariskan secara turun temurun. Salah satunya yaitu proses pembuatan kain atau sarung tenun khas Mandar.

Masyarakat Mandar menyebut proses pembuatan sarung khas Mandar ini dengan sebutan Manette'. Kegiatan ini telah diwariskan selama berabad-abad oleh masayarakat Mandar. Kain Manette' atau biasa disebut kain Sa'be yang merupakan hasil dari kegiatan Manette' tadi biasanya didominasi oleh warna-warna cerah seperti merah, kuning, serta hijau dengan beragam motif. Setiap motif dan warna dari kain Sa'be memiliki makna filosofis yang menceritakan nilai-nilai, sejarah, dan kepercayaan masyarakat Mandar. Membuat Sarung atau Lipa Sa'be khas Mandar bukanlah sesuatu yang mudah dikerjakan, hal ini karena prosesnya yang harus dikerjakan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.

Setidaknya ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk membuat Lipa Sa'be, diantaranya :

1. Pemilihan benang

Benang atau yang dalam bahasa Mandar disebut Bannang sutra merupakan bahan khas yang diperlukan dalam pembuatan Lipa Sa'be. Penggunaan benang sutera ini dikarenakan seratnya berasal dari air liur ulat sutera sehingga lebih berkilau. Ulat sutera yang nantinya akan mengeras menjadi kepompong, yang akan diurai menjadi serat yang halus dan panjang. Masyarakat Mandar menyebutnya Ma'unnus yaitu penarikan benang dari kepompong. Setelah Ma'unnus selesai, dilanjutkan dengan proses Matti'or yaitu menghaluskan dan menggulung menjadi pintalan-pintalan benang yang siap digunakan.

2. Maccingga

Macingga adalah proses pewarnaan. Dulunya para penenun Lipa Sa'be menggunakan cara pewarnaan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam seperti daun nila, bakko, dan gamalo. Akan tetapi karena kesulitan mendapatkan bahan, akhirnya saat ini para penenun umumnya melakukan pewarnaan dengan menggunakan bahan kimia. Prosesnya cukup merebus benang sutera dengan air pewarna hingga benang bercampur dengan warna, lalu didinginkan. Setelah dingin, benang sutera diperah dan dibilas lalu dijemur sampai kering.

3. Manggalenrong

Manggalenrong adalah proses melilitkan benang ke sebuah bambe atau kaleng. Benang yang digalenrong nantinya akan digunakan untuk pembuatan benang lungsi. Satu galenrong hanya untuk sau warna benang saja. Selain benang galenrong, penenun juga harus menyiapkan benang pakan.

4. Mappamaling

Mappamaling adalah proses melilitkan benang untuk pakan diujung pemalingan yang terbuat dari bambu sebesar lidi.

5. Sumau

Sumau yaitu proses untuk mengatur benang lungsi yang membutuhkan tempat agak luas. Masyarakat Mandar biasanya melakukannya dibawah kolong rumah mereka untuk membuat sautan. Lama proses Sumau ini biasanya 1 hari atau 2 hari.

6. Mappatama

Mappatama, dalam bahasa Mandar berarti memasukkan, dalam hal ini adalah benang lungsi yang sudah dilepas dari sautan dimasukkan ke tandayang untuk ditenun. Prosesnya yaitu setelah dilepas dari sautan terlebih dahulu benang lungsi dirapikan, diperiksa dan diteliti bila ada yang putus segera disambung, kemudian dipasangi patakko. Patakko tersebut dipasang papan pamalu' yang mana pada pamalu' tersebut terdapat baut penahan patakko. Selanjutnya benang lungsi dililitkan/digulungkan pada papan(pamalu'). Papan pamalu' tersebutlah yang dimasukkan ke pattandayangan. Langkah terakhir adalah memasukkan ujung pakanyang lain patakko yang akan dimasukkan ke dalam passa dengan ketentuan biring.

7. Manette'

Manette' artinya Menenun. Proses menenun kain khas tradisional Mandar ini memakai beberapa peralatan yang disebut parewatandayang (peralatan tenun). Parewatandayang merupakan warisan leluhur masyarakat mandar, sehingga diakui merupakan hasil kreasi nenek moyang masyarakat mandar yang diwariskan secara turun temurun. Kemampuan menciptakan parewatandayang juga dilakukan secara turun temurun tanpa ditransfer secara formal oleh pendahulunya. Keccu (pinggir kecil benang lungsi) sebelahk anan dan pandapuan sebelah kiri.

Setelah semua tahapan selesai dilakukan, sarung khas Mandar atau Lipa Sa'be siap dikemas kemudian dipasarkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....