Pancasila di tengah Zaman yang Berubah

  • 01 Okt 2026 16:29 WIB
  •  Mamuju

Oleh: Ahmad Difa Awlia Aslim, S.AP., M.A.P. (Dosen Ilmu Administrasi Negara)

RRI.CO.ID, Mamuju - Setiap tanggal 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini biasanya ditandai dengan upacara, pengibaran bendera, pembacaan Pancasila, dan berbagai pesan tentang persatuan bangsa.

Namun, di tengah kehidupan yang semakin berubah, ada pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan: apakah Pancasila masih benar-benar hadir dalam kehidupan kita, atau hanya kita ingat ketika peringatannya tiba?

Pertanyaan ini penting karena tantangan kehidupan berbangsa hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk konflik yang terlihat. Tantangan itu bisa muncul dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu media sosial dan derasnya arus informasi.

Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi. Ada berita, video, komentar, dan berbagai pendapat yang beredar dengan sangat cepat. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut benar.

Tidak jarang kita langsung percaya dan membagikannya hanya karena informasi itu sesuai dengan pandangan kita. Di sisi lain, perbedaan pendapat di media sosial juga sering berubah menjadi pertengkaran.

Orang mudah memberikan komentar kasar, saling menyalahkan, bahkan memutus hubungan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan. Padahal, berbeda adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kita berbeda suku, agama, budaya, bahasa, pekerjaan, latar belakang, dan pilihan. Bahkan dalam satu keluarga pun perbedaan pendapat adalah hal yang tidak dapat dihindari. Yang menjadi persoalan bukan perbedaannya, tetapi bagaimana kita menyikapinya.

Di sinilah Pancasila kembali menemukan relevansinya. Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru berarti kita mampu hidup bersama meskipun memiliki perbedaan.

Karena itu, salah satu bentuk sederhana mengamalkan Pancasila saat ini adalah belajar menahan diri. Tidak semua informasi harus langsung dibagikan.

Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran. Terkadang, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya merupakan bentuk tanggung jawab kepada orang lain. Menghargai pendapat yang berbeda juga merupakan bagian dari menjaga persatuan.

Pancasila juga tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarmasyarakat. Nilai-nilainya dapat kita lihat dalam kehidupan pemerintahan, khususnya melalui pelayanan publik.

Masyarakat mungkin tidak setiap hari membicarakan teori tentang pemerintahan, tetapi hampir setiap orang pernah berhubungan dengan pelayanan pemerintah.

Mengurus dokumen kependudukan, mendapatkan layanan kesehatan, mengurus pendidikan, perizinan, maupun berbagai kebutuhan administrasi lainnya merupakan pengalaman nyata masyarakat dalam merasakan kehadiran negara.

Karena itu, pelayanan publik seharusnya tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan manusiawi. Kemajuan teknologi juga membawa tantangan baru. Digitalisasi memang dapat membuat pelayanan menjadi lebih mudah dan cepat.

Namun, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan dan akses teknologi yang sama. Ada masyarakat yang sangat terbiasa menggunakan layanan digital, tetapi ada pula kelompok masyarakat yang masih membutuhkan bantuan.

Maka, kemajuan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan. Kita juga perlu melihat apakah teknologi tersebut benar-benar memudahkan masyarakat.

Di sinilah nilai keadilan sosial menjadi penting. Jangan sampai kemajuan yang seharusnya mempermudah justru membuat sebagian masyarakat semakin tertinggal.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak harus selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Ia dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghormati tetangga yang berbeda keyakinan. Membantu orang yang sedang kesulitan.

Tidak merendahkan orang lain karena kondisi ekonominya. Mau mendengarkan ketika orang lain berbicara. Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Memberikan pelayanan dengan baik ketika kita memiliki tanggung jawab untuk melayani.

Semua itu mungkin terlihat sederhana. Namun, kehidupan berbangsa sebenarnya dibangun dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan terus-menerus.

Karena itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti pada upacara. Peringatan ini semestinya menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat kembali diri sendiri.

Apakah kita sudah menghargai perbedaan?

Apakah kita sudah bijak menggunakan media sosial?

Apakah kita masih mau mendengarkan orang lain?

Apakah kita sudah memperlakukan sesama dengan adil?

Dan bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan publik, apakah masyarakat sudah benar-benar merasakan kehadiran negara melalui pelayanan yang diberikan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi penting untuk terus kita renungkan.

Pancasila tidak akan kuat hanya karena sering disebut dalam pidato. Pancasila juga tidak akan hidup hanya karena lima silanya kita hafal sejak sekolah. Pancasila akan hidup ketika nilai-nilainya menjadi kebiasaan.

Ia hadir ketika kita menghargai manusia, menjaga persatuan, mau bermusyawarah, dan memperjuangkan keadilan. Dari lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, hingga ruang digital, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya.

Pada akhirnya, memperingati Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang mengingat sejarah. Lebih dari itu, kita perlu memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila tetap relevan dan hadir dalam kehidupan kita di tengah zaman yang terus berubah.

Sebab Pancasila tidak hanya perlu kita hafalkan. Pancasila perlu kita jalankan. Dan yang paling penting, Pancasila perlu kita hidupkan dalam tindakan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....