Beda Pola Bergantung Pria dan Wanita Berdasarkan Pemprograman Sendiri

  • 05 Okt 2026 09:35 WIB
  •  Mamuju

RRI. CO.ID, Mamuju - Laki-laki tidak akan bertahan lama tanpa perempuan, sementara perempuan sebagian besar dari mereka akan baik-baik saja tanpa laki-laki.

Kalimat ini terdengar pedas, tapi sebenarnya ada penjelasan ilmiah yang cukup kuat di baliknya. Bukan soal siapa yang lebih hebat, tapi soal bagaimana laki-laki dan perempuan membangun sistem bertahan hidup yang sangat berbeda.

Laki-laki jauh lebih bergantung kepada perempuan untuk dukungan emosional, stabilitas, bahkan perilaku bertahan hidup dasar daripada sebaliknya. Dan sains sudah lama mencatat hal ini.

Data Jangka Panjangnya Tidak Berbohong

Dalam studi-studi jangka panjang tentang pernikahan dan kesehatan, polanya selalu sama.

Penelitian dari Harvard Study of Adult Development yang berjalan lebih dari 80 tahun, Journal of Epidemiology & Community Health, dan berbagai studi di Amerika dan Eropa menemukan hal yang konsisten:

Kesehatan laki-laki merosot tajam setelah putus cinta, perceraian, atau ditinggal meninggal pasangan.

Mereka mengalami stres yang lebih tinggi, kualitas tidur yang lebih buruk, pola makan yang berantakan, peningkatan konsumsi alkohol dan rokok, risiko masalah jantung dan stroke yang lebih tinggi, dan bahkan risiko kematian dini yang meningkat 20-30% pada beberapa tahun pertama setelah kehilangan pasangan.

Sementara pada perempuan? Dampaknya tentu menyakitkan secara emosional, tapi secara statistik kesehatan fisik dan kemampuan fungsionalnya jauh lebih stabil. Perempuan lebih cepat kembali ke baseline kesehatan setelah perpisahan.

Kenapa bisa begitu?

1. Laki-Laki Menggantungkan Seluruh Sistem Emosionalnya Pada Satu Orang

Sejak kecil, cara laki-laki dan perempuan dididik untuk bersosialisasi sangat berbeda.

Perempuan secara sosial diizinkan, bahkan didorong, untuk membangun jaringan dukungan yang luas.

Ia punya sahabat untuk curhat, punya grup arisan, punya teman kantor untuk ngobrol, punya saudara perempuan untuk berbagi, punya komunitas.

Jika ada masalah, perempuan cenderung membicarakannya. Ia memproses emosi dengan berbagi.

Laki-laki? Pola asuhnya sering berkata: "Jangan cengeng. Selesaikan sendiri. Laki-laki harus kuat."

Akibatnya, banyak laki-laki dewasa hanya punya satu tempat aman untuk menjadi rentan: pasangannya. Ia tidak curhat ke teman prianya tentang rasa takut, cemas, gagal, atau sedih.

Ia hanya curhat ke istrinya atau pacarnya. Pasangannya bukan hanya pasangan, tapi sekaligus terapis, manajer emosi, sekretaris sosial, dan penjaga kesehatannya.

Ketika sosok itu hilang, jaring pengamannya hilang total. Ia tidak tahu harus bicara ke siapa, sehingga stresnya menumpuk di dalam tubuh.

2. Perempuan Adalah Manajer Kehidupan Dasar Tanpa Disadari

Coba jujur. Dalam rumah tangga pada umumnya, siapa yang lebih sering ingat jadwal kontrol dokter? Siapa yang ingat anak harus imunisasi kapan? Siapa yang memastikan ada sayur di kulkas, rumah tidak berantakan, dan hubungan dengan keluarga besar tetap baik?

Secara sosiologis, perempuan sering menjadi kin keeper dan health manager.

Penelitian dari University of Michigan menyebut perempuan dalam pernikahan rata-rata melakukan 2-3 kali lebih banyak emotional labor dan invisible labor.

Mereka yang mengatur pola makan keluarga, mengingatkan minum obat, menjaga koneksi sosial, dan merawat hubungan.

Jadi ketika perempuan pergi, yang hilang dari laki-laki bukan hanya cinta, tapi seluruh sistem yang membuat hidupnya teratur.

Pola makan jadi tidak teratur, rumah berantakan, pertemanan memudar karena yang biasanya mengingatkan untuk silaturahmi adalah istri, dan kesehatan tidak terpantau. Itu sebabnya kualitas hidup laki-laki sering anjlok setelah sendiri.

Sebaliknya, perempuan sudah terbiasa mengelola hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Ketika ia sendiri, ia tetap menjalankan sistem itu untuk dirinya.

3. Perbedaan Biologis dan Cara Otak Merespons Risiko

Secara biologis, ada perbedaan hormonal yang mempengaruhi perilaku.

Laki-laki dengan testosteron yang lebih tinggi secara evolusi lebih terprogram untuk mengejar risiko, kompetisi, dan imbalan jangka pendek.

Dopamin - hormon kepuasan dari pencapaian dan kemenangan - bekerja sangat kuat. Ini hebat untuk berburu dan berkompetisi, tapi kurang efektif untuk membangun ketenangan jangka panjang.

Perempuan dengan estrogen dan oksitosin yang lebih dominan secara biologis lebih terprogram untuk tend and befriend, yaitu mengelola keamanan, membangun koneksi, dan menjaga stabilitas jangka panjang.

Oksitosin membuat perempuan lebih peka terhadap ikatan sosial dan lebih mahir membangun jejaring yang saling menopang. Dan jejaring itulah yang sebenarnya membuat manusia bisa bertahan hidup lama.

Bukan berarti perempuan tidak mencintai laki-laki. Bukan berarti perempuan tidak sedih saat putus. Itu hanya berarti perempuan tidak menggantungkan seluruh sistem kelangsungan hidupnya pada satu orang.

Jadi ketika kamu sebagai laki-laki bercanda, "Dia pasti akan tersesat tanpaku," kenyataannya mungkin otak dan tubuhmulah yang lebih bersandar padanya daripada yang kamu sadari.

Pelajaran dari semua riset ini bukan untuk menakut-nakuti laki-laki, tapi untuk membuka mata.

Buat laki-laki: Mulailah membangun jaringan emosional yang lebih luas. Punya sahabat yang bisa diajak bicara jujur tanpa takut di-judge.

Belajar mengelola kesehatan, makanan, dan rumahmu sendiri. Belajar memproses emosi tanpa hanya mengandalkan pasangan.

Kemandirian emosional bukan berarti tidak butuh perempuan, tapi berarti kamu mencintai perempuan dengan cara yang lebih sehat - bukan karena kamu tidak bisa hidup tanpanya, tapi karena hidupmu memang lebih baik bersamanya.

Dan buat perempuan: Ketahuilah betapa vitalnya peranmu. Tapi juga pahamilah bahwa kamu berhak untuk tidak selalu menjadi manajer emosi bagi semua orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....