Lari dan Padel Jadi Penanda Kelas Sosial Baru di Kalangan Menengah Urban Indonesia
- 30 Agt 2026 14:37 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Olahraga seperti lari dan padel kini bukan sekadar aktivitas kebugaran, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol status sosial baru bagi kelas menengah perkotaan Indonesia. Fenomena ini ditandai oleh menjamurnya gear olahraga branded, keanggotaan klub eksklusif, hingga konten Instagram-able yang menyertai setiap sesi latihan.
Kajian sosiologi terhadap tren olahraga di kalangan anak muda menyoroti adanya kesenjangan akses yang mencolok. Anak muda dari keluarga kelas menengah ke atas umumnya memiliki keanggotaan gym, peralatan olahraga pribadi, atau waktu luang yang memadai untuk berolahraga secara rutin, sementara kelompok dengan keterbatasan ekonomi cenderung kesulitan mengakses fasilitas serupa.
Kesenjangan ini menegaskan bahwa olahraga, alih-alih menjadi hak yang egaliter, justru turut mereproduksi stratifikasi sosial yang sudah ada. Fenomena ini terlihat jelas pada tren padel dan pickleball yang belakangan digandrungi kelas menengah urban.
Berbeda dengan olahraga tradisional yang bisa dilakukan dengan modal minim, padel dan pickleball membutuhkan akses ke lapangan khusus, peralatan raket dengan harga bervariasi, hingga biaya sewa lapangan per jam yang tidak murah.
Pelaku usaha retail olahraga bahkan kini secara sengaja menggarap bisnis berbasis komunitas eksklusif, membangun ekosistem sosial di sekitar olahraga tersebut lewat klub, turnamen berbayar, dan sesi latihan privat.
Pola serupa terlihat pada tren lari, khususnya lewat menjamurnya event lari premium dengan biaya pendaftaran yang tidak sedikit, dilengkapi merchandise eksklusif, dan pengalaman "instagramable" di sepanjang rute maupun garis finis.
Fenomena ini menciptakan budaya baru di mana partisipasi dalam sebuah event olahraga tidak lagi semata soal kebugaran, melainkan juga soal menunjukkan gaya hidup dan afiliasi terhadap kelompok sosial tertentu lewat unggahan di media sosial.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram turut memperkuat fenomena ini. Banyak anak muda menampilkan aktivitas olahraga mereka sebagai bagian dari narasi self-healing dan self-care, lengkap dengan estetika visual tertentu -- mulai dari outfit lari yang serasi, botol minum branded, hingga rute lari dengan latar belakang menarik. Estetika ini secara tidak langsung menciptakan standar baru tentang bagaimana "seharusnya" seseorang berolahraga di ruang publik digital.
Meski demikian, aspek sosial dari olahraga (seperti dukungan komunitas, teman berlatih, dan pelatih) terbukti secara ilmiah memperkuat keberlanjutan aktivitas fisik seseorang, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kesehatan mental berupa penurunan ketegangan emosional dan perbaikan suasana hati. Artinya, di balik dimensi gaya hidup dan status sosialnya, olahraga berbasis komunitas tetap membawa manfaat kesehatan yang otentik.
Fenomena olahraga sebagai penanda kelas sosial baru ini menjadi cermin menarik bagaimana praktik kebugaran di era digital tak pernah lepas dari dinamika ekonomi dan budaya konsumsi. Pertanyaannya kini, apakah tren ini akan terus memperlebar jurang akses kebugaran antara kelas sosial, atau justru mendorong lebih banyak inovasi olahraga yang inklusif dan terjangkau bagi semua kalangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....