Majemuknya Komunikasi antar Budaya yang Terikat dalam Teori Negosiasi Muka

  • 23 Jul 2026 13:28 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Konsep utama dalam teori ini adalah muka (face). Muka adalah citra diri atau harga diri yang ingin ditampilkan seseorang di hadapan orang lain.

Semua orang tentu ingin dihargai dan dipandang positif, tetapi cara menjaga muka tidak selalu sama di setiap budaya.

Pada budaya individualis, seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Australia, muka lebih berkaitan dengan kebebasan pribadi, kemandirian, serta hak untuk menyampaikan pendapat.

Seseorang merasa kehilangan muka ketika kebebasannya dibatasi, pendapatnya diabaikan, atau kemampuannya dipertanyakan di depan umum.

Oleh karena itu, masyarakat individualis cenderung berkomunikasi secara langsung, terbuka, dan tegas ketika menyampaikan pendapat maupun menyelesaikan konflik.

Sebaliknya, pada budaya kolektivis, seperti Indonesia, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, muka lebih berkaitan dengan keharmonisan hubungan, rasa saling menghormati, dan nama baik kelompok.

Dalam budaya ini, seseorang merasa kehilangan muka apabila dirinya atau anggota kelompok dipermalukan di depan orang lain atau terjadi konflik yang merusak hubungan.

Karena itu, masyarakat kolektivis lebih memilih menggunakan bahasa yang halus, tidak langsung, dan berusaha menghindari konfrontasi. Menjaga perasaan orang lain dianggap sama pentingnya dengan menyampaikan pendapat sendiri.

Menurut Ting-Toomey, terdapat tiga strategi utama dalam menjaga muka ketika menghadapi konflik. Strategi pertama adalah self-face concern, yaitu strategi yang lebih mengutamakan menjaga citra diri sendiri.

Orang yang menggunakan strategi ini biasanya berbicara dengan tegas, terbuka, dan berusaha mempertahankan pendapatnya. Strategi ini lebih sering ditemukan pada masyarakat individualis.

Strategi kedua adalah other-face concern, yaitu strategi yang lebih mengutamakan menjaga harga diri dan perasaan lawan bicara.

Komunikasi dilakukan dengan cara yang sopan, hati-hati, dan menghindari ucapan yang dapat membuat orang lain merasa malu.

Strategi ketiga adalah mutual-face concern, yaitu strategi yang berusaha menjaga muka kedua belah pihak sekaligus.

Dalam strategi ini, penyelesaian konflik dilakukan melalui kerja sama, diskusi, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama. Strategi ini dianggap paling efektif karena mampu menjaga hubungan sekaligus menyelesaikan masalah.

Namun, strategi ini memerlukan kemampuan komunikasi yang baik serta pemahaman terhadap perbedaan budaya.

Perbedaan strategi tersebut sering menjadi penyebab terjadinya miskomunikasi. Misalnya, seseorang dari budaya individualis yang berbicara secara langsung dapat dianggap kurang sopan oleh orang dari budaya kolektivis.

Sebaliknya, seseorang dari budaya kolektivis yang berbicara dengan sangat hati-hati dapat dianggap tidak tegas atau berbelit-belit oleh orang dari budaya individualis.

Padahal, keduanya hanya menggunakan cara komunikasi yang sesuai dengan nilai budaya masing-masing.

Teori ini juga dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk dunia penyiaran. Misalnya, penyiar radio di daerah yang memiliki budaya kolektivis kuat, seperti beberapa wilayah di Sulawesi, biasanya menggunakan bahasa yang santun, ramah, dan tidak mudah memotong pembicaraan narasumber.

Tujuannya adalah menjaga kenyamanan dan menghormati lawan bicara. Sebaliknya, penyiar pada media berita nasional sering menggunakan gaya komunikasi yang lebih singkat, langsung dan fokus pada penyampaian informasi karena menyesuaikan dengan kebutuhan media yang cepat, ini lebih banyak digunakan oleh masyarakat kolektivis karena mereka lebih mengutamakan keharmonisan hubungan daripada kepentingan pribadi.

Dapat disimpulkan bahwa Teori Negosiasi Muka merupakan teori komunikasi antarbudaya karena menjelaskan bahwa setiap budaya memiliki cara yang berbeda dalam menjaga harga diri dan menyelesaikan konflik.

Tidak ada satu cara yang paling benar, karena semuanya dipengaruhi oleh nilai budaya yang dianut. Oleh sebab itu, seseorang yang berkomunikasi dengan orang dari budaya lain perlu memahami cara pandang budaya tersebut agar pesan dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Keberhasilan komunikasi antarbudaya tidak hanya bergantung pada isi pesan yang disampaikan, tetapi juga pada cara penyampaiannya yang menghargai nilai, norma, dan konsep "muka" dalam budaya lawan bicara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....