Green Lifestyle Mahasiswa Membangun Kesadaran Ekologis dari Kampus untuk Bumi

  • 27 Jun 2026 18:16 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju – Green Lifestyle Mahasiswa Jadi Kebutuhan, Bukan Pilihan. Fiqih Hijau Dorong Kampus Jadi Laboratorium Keberlanjutan.

Enam tantangan lingkungan kampus jadi sorotan. Mulai sampah hingga pemborosan energi.

Green Lifestyle mahasiswa kini jadi topik hangat. Di era modern, mahasiswa disebut agen perubahan terbesar dunia. Pendalaman ilmu di perguruan tinggi jadi landasan kuat, dan disetujui banyak kalangan.

Ilmu Fiqih Hijau yang bersinggungan dengan green lifestyle juga masif diajarkan di mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PT Muhammadiyah.

Materinya menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk merawat, menjaga, dan melestarikan alam.

Namun di tengah tantangan global, pola hidup yang berubah cepat membuat beban manusia sebagai khalifah makin berat. Kemudahan teknologi banyak membantu, tapi juga ciptakan efek buruk bagi bumi.

Sampai ada jejak buruk yang ancam kelestarian lingkungan. Sikap lalai karena fasilitas serba mudah justru memperparah kondisi bumi.

Masalah Utama Green Lifestyle di Kampus :

Realitas di kampus jadi cerminan tantangan. Sebagai pusat intelektual dan sosial, kampus harusnya jadi teladan ramah lingkungan. Faktanya, masih ada 6 masalah mendasar:

1. Rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya

Sampah berserakan ganggu estetika, jadi sumber penyakit, hingga picu banjir. Kesadaran memilah organik dan non-organik juga rendah. Akibatnya program daur ulang kampus tidak maksimal. Padahal pemilahan awal kunci sampah punya nilai ekonomi.

2. Tingginya penggunaan barang sekali pakai, khususnya plastik

Botol plastik, sedotan, dan bungkus makanan sekali pakai masih jadi kebiasaan. Plastik butuh ratusan tahun terurai dan cemari tanah serta laut. Solusi sederhana seperti tumbler dan rantang pribadi belum jadi budaya.

3. Pemborosan sumber daya energi

Keran air menyala saat wudhu, lampu kipas hidup di ruang kosong, cetak dokumen berlebihan. Kebiasaan kecil yang masif berdampak besar ke perubahan iklim. Hemat energi bagian dari tanggung jawab ekologis, bukan cuma hemat biaya.

4. Menyia-nyiakan makanan

Buang sisa makanan layak konsumsi = buang energi, air, dan tenaga produksi. Bawa wadah sendiri dan ambil porsi secukupnya bisa tekan food waste.

5. Lemahnya pemahaman teologis-ekologis

Banyak yang anggap pelestarian lingkungan hanya kegiatan seremonial. Padahal dalam Fiqih Hijau, jaga lingkungan adalah ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Qasas ayat 77

Langkah Konkret Wujudkan Green Lifestyle di Kampus

Menyadari 6 persoalan itu, green lifestyle bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Langkah mudah yang bisa diterapkan:

1. Bawa tumbler & rantang sendiri untuk kurangi plastik sekali pakai dan simpan sisa makanan.

2. Budaya memilah sampah sesuai label tempat sampah. Memungut 1 bungkus plastik punya dampak edukatif besar.

3. Hemat air, listrik, kertas. Tutup keran saat wudhu, matikan lampu jika ruang kosong.

4. Tidak boros makanan. Ambil secukupnya, makan bersama tanpa banyak sisa.

5. Sadari dimensi spiritual. Jaga kebersihan dan alam sebagai amanah Tuhan.

Di area ibadah dan sanitasi, menutup keran air yang terbuka jadi wujud menjaga amanah. Menjaga masjid kampus bersih adalah bentuk hormat pada rumah Tuhan dan rumah bersama.

Dengan Fiqih Hijau yang bergandengan dengan green lifestyle, tanggung jawab agama jadi lebih mudah diwujudkan. Kampus tidak hanya tempat menuntut ilmu, tapi juga laboratorium praktik keberlanjutan.

Mahasiswa sebagai generasi terdidik punya tanggung jawab moral jadi pelopor. Kampus bersih, sehat, nyaman tidak tercipta sendiri. Butuh komitmen kolektif dari kebiasaan kecil tiap hari. Ketika kesadaran, ilmu, dan spiritualitas ekologis bertemu dalam green lifestyle, kampus jadi rumah kedua yang layak huni dan inspirasi masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....