Luka Tak Tampak, Luka Tak Dipahami
- 15 Jun 2026 10:40 WIB
- Mamuju
Oleh: Wahyu Santoso, Ketua SHG Binanga Sehat Jiwa
Membaca Kesehatan Jiwa Remaja di Tengah Stigma dan Tuntutan Zaman
RRI.CO.ID, Mamuju - Di Lingkar Cerita, seorang pelajar pernah bercerita tentang kegelisahan yang ia simpan cukup lama. Dari luar, kehidupannya tampak berjalan normal: hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, berinteraksi dengan teman, dan menjalani rutinitas sebagaimana remaja pada umumnya.
Namun di balik rutinitas yang teratur itu, ia hidup bersama kecemasan yang menetap—Ia takut gagal. Takut tidak mampu memenuhi ekspektasi orang tua. Takut mengecewakan pihak-pihak yang selama ini menaruh harapan padanya.
Bagi dirinya, setiap penurunan nilai bukan sekadar angka, melainkan indikator kegagalan personal. Dalam proses itu, ia tidak berhenti berusaha.
Justru sebaliknya, ia terdorong untuk terus memaksakan diri hingga batas yang kerap melelahkan, tanpa ruang jeda yang memadai.
Cerita seperti ini tidak berdiri sendiri. Di tengah kehidupan remaja yang tampak sibuk di permukaan, ada lapisan sunyi yang tak selalu terlihat oleh orang di sekitarnya.
Ada remaja yang mengalami tekanan akademik, ada yang terjebak dalam perbandingan sosial, dan ada yang kehilangan rasa percaya diri karena merasa tidak pernah cukup baik, meskipun telah berupaya maksimal. Sebagian memilih tidak menyampaikan apa yang mereka alami.
Bukan karena tidak ingin didengar, tetapi karena tidak yakin akan dipahami. Dalam konteks inilah isu kesehatan jiwa remaja menjadi relevan untuk ditempatkan sebagai perhatian serius.
Di Antara Tumbuh dan Tuntutan Zaman
Masa remaja merupakan fase transisi dengan kompleksitas perkembangan yang tinggi. Pada periode ini, individu tidak hanya mengalami perubahan biologis, tetapi juga sedang membangun identitas diri, pola relasi sosial, serta orientasi masa depan.
Di saat yang sama, mereka berhadapan dengan berbagai tuntutan yang datang secara simultan: pencapaian akademik, ekspektasi keluarga, adaptasi sosial, paparan media digital, serta ketidakpastian arah masa depan.
Tidak semua individu memiliki kapasitas yang sama dalam merespons tekanan tersebut. Sebagian mampu beradaptasi secara adaptif, namun sebagian lainnya mengalami beban psikologis yang berkepanjangan.
Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, atau kondisi kesehatan jiwa lain yang membutuhkan intervensi yang tepat.
Yang menjadi tantangan utama adalah bahwa kondisi psikologis tidak selalu tampak secara kasat mata.
Individu dapat tetap berfungsi secara sosial, hadir di ruang pendidikan, dan menjalankan aktivitas harian, sambil menyimpan tekanan emosional yang tidak teridentifikasi oleh lingkungan sekitar.
Data sebagai Peringatan Dini
Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam periode satu tahun terakhir.
Sementara sekitar satu dari dua puluh remaja terindikasi mengalami gangguan mental yang membutuhkan bantuan profesional.
Temuan ini menunjukkan bahwa isu kesehatan jiwa remaja bukan fenomena marginal.
Ia merupakan realitas sosial yang bersifat luas dan sistemik.
Di balik angka tersebut terdapat spektrum pengalaman yang tidak seragam: kecemasan yang berkepanjangan, perasaan kesepian yang menetap, penurunan kepercayaan diri, hingga pengalaman self-blame yang berulang.
Namun dalam praktiknya, perhatian publik masih cenderung lebih dominan pada capaian yang bersifat akademik dan visual, dibandingkan kondisi psikologis yang tidak terlihat secara langsung.
Pertanyaan yang sering diajukan masih berkisar pada capaian: nilai, peringkat, dan rencana studi lanjutan. Sementara kondisi emosional kerap tidak menjadi bagian dari percakapan utama.
Ekspektasi Keluarga dan Dinamika Psikologis Remaja
Dalam berbagai pengalaman pendampingan, ekspektasi keluarga sering muncul sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tekanan psikologis pada remaja.
Perlu ditegaskan bahwa ekspektasi orang tua pada dasarnya berangkat dari niat yang positif, yaitu keinginan agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.
Namun dalam dinamika relasi sehari-hari, ekspektasi tersebut tidak selalu dipahami secara proporsional oleh remaja.
Sebagian menginternalisasi bahwa nilai akademik merupakan ukuran utama harga diri.
Sebagian lainnya mengembangkan persepsi bahwa kegagalan adalah bentuk kekecewaan yang tidak dapat diterima. Dalam jangka panjang, konstruksi semacam ini dapat membentuk tekanan internal yang signifikan.
Dalam kondisi tersebut, kegagalan minor dapat dipersepsikan secara berlebihan, sementara proses belajar menjadi sarat dengan kecemasan.
Padahal perkembangan setiap individu bersifat unik, dengan kapasitas, minat, dan ritme yang berbeda.
Oleh karena itu, dukungan yang dibutuhkan tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga emosional dan relasional: ruang untuk didengar, dipahami, dan diterima tanpa syarat performa.
Stigma sebagai Hambatan Struktural
Salah satu hambatan signifikan dalam penanganan kesehatan jiwa adalah stigma sosial.
Dalam sebagian masyarakat, gangguan kesehatan jiwa masih dipersepsikan sebagai kelemahan karakter, kurangnya kontrol diri, atau bahkan dikaitkan dengan aspek moral dan spiritual secara simplistik: Imannya Lemah.
Stigma semacam ini berdampak langsung terhadap perilaku pencarian bantuan. Individu cenderung menunda atau menghindari akses terhadap layanan kesehatan jiwa karena kekhawatiran terhadap penilaian sosial.
Dalam praktik SHG, ditemukan bahwa hambatan tidak hanya bersumber dari lingkungan eksternal, tetapi juga telah terinternalisasi sebagai self-stigma. Individu mulai menganggap dirinya lemah, tidak layak, atau menjadi beban. Kondisi ini memperburuk situasi psikologis yang sedang dialami dan dapat menghambat proses pemulihan.
Maka stigma tak lagi berhenti sebagai kata atau sikap. Ia berubah menjadi dinding sunyi—kadang setinggi tebing yang tak terlihat—yang membuat seseorang bahkan gentar untuk mengucap sederhana: “Saya tidak baik-baik saja.”
Rehabilitasi Berbasis Masyarakat
Selain upaya pengobatan medis, dalam menangani kesehatan jiwa diperlukan rehabilitasi berbasis masyarakat yang melibatkan keluarga, institusi pendidikan, teman sebaya, serta komunitas.
Pemulihan tidak hanya diukur melalui penurunan gejala, tetapi juga melalui peningkatan fungsi sosial, stabilitas emosional, serta kemampuan individu untuk kembali menjalankan peran sehari-hari secara bermakna.
Dalam situasi seperti ini, lingkungan menjadi penentu yang diam-diam bekerja di balik layar. Cara keluarga merespons untuk pertama kalinya sering menjadi titik awal—yang bisa menguatkan, atau justru membuat seseorang menarik diri lebih jauh dari proses pemulihan.
Respon yang suportif dapat mempercepat pemulihan, sementara respon yang menghakimi dapat memperburuk kondisi.
Mari Belajar Mendengar
Kesehatan jiwa pada akhirnya tidak berhenti pada urusan medis. Ia juga menyentuh dimensi paling manusiawi: cara kita hadir dalam relasi sosial, cara kita mendengar, dan cara kita merespons luka orang lain.
Dalam banyak keadaan, mereka yang tengah bergulat dengan tekanan batin tidak sedang mencari jawaban cepat. Yang lebih mereka butuh justru ruang—untuk bercerita sampai tuntas, tanpa disela, tanpa dihakimi.
Di tengah budaya yang cenderung menekankan pencapaian, produktivitas, dan performa, kemampuan untuk hadir sebagai pendengar yang empatik menjadi semakin penting.
Pertanyaan yang perlu lebih sering dihadirkan bukan hanya tentang capaian, tetapi juga tentang kondisi batin: apa yang sedang dirasakan, apa yang sedang menjadi beban, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Sebab tidak semua kondisi psikologis tampak secara visual. Tidak semua beban emosional dapat teridentifikasi melalui indikator luar.
Setiap individu pada dasarnya memiliki hak yang sama: untuk dipahami, didukung, dan diberi ruang untuk pulih tanpa stigma. Bukan untuk diasingkan, apalagi dikurung dalam ruang-ruang sempit yang meniadakan kemanusiaan.
Justru di ruang-ruang kecil yang hangat oleh kesediaan untuk mendengar, proses pemulihan sering perlahan menemukan jalannya kembali.
Di penghujung catatan ini, penghargaan layak disampaikan kepada GEMA Difabel Sulawesi Barat dan Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Dari ruang-ruang pendampingan yang mereka hadirkan, tumbuh ikhtiar yang tidak hanya berbicara tentang pemulihan, tetapi juga tentang memulihkan cara kita memandang manusia—dengan lebih utuh, lebih sabar, dan lebih berbelas kasih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....