Dakwah Modern, Tetap Bedakan Antara Kebenaran dan Kebathilan
- 30 Okt 2025 05:38 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Membedakan antara kebenaran dan kebathilan merupakan salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, khususnya pada surah Al-Baqarah ayat 42 yang berbunyi:
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”
Ayat ini menjadi pedoman bagi umat Islam agar senantiasa menjaga kemurnian kebenaran dan tidak terjerumus dalam penyimpangan yang dapat menyesatkan diri maupun orang lain.
Dalam konteks kehidupan sosial dan keagamaan masa kini, pesan ayat tersebut menjadi semakin relevan.
Dr. Nursalim Ismail dalam salah satu kesempatan menyampaikan pesan penting tentang bagaimana seharusnya agama dijaga dari kepentingan duniawi.
"seorang ustadz atau pendakwah seharusnya tidak menjadikan agama sebagai alat untuk kepentingan politik, pribadi, ataupun golongan. Agama adalah petunjuk hidup, bukan komoditas untuk kepentingan sesaat," ujarnya
Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya menghindari sikap taklim buta, yaitu mengikuti sesuatu tanpa memahami dasarnya. Dalam dunia dakwah, hal ini termasuk tindakan membumbui kampanye dengan pesan-pesan agama demi menarik dukungan.
" Ketika pesan agama digunakan untuk memperkuat kepentingan politik, maka makna ajaran yang suci itu bisa terdistorsi. Bahkan lebih berbahaya lagi jika seorang pendakwah memelintir makna ayat atau hadis untuk membenarkan pandangan pribadi atau kelompok tertentu," tambahnya
Namun demikian, tantangan terbesar bagi para ulama dan tokoh agama saat ini bukan hanya menjaga kemurnian pesan agama, tetapi juga bagaimana menyampaikannya di tengah perubahan zaman. Dalam masyarakat modern, terutama di kalangan generasi muda, gaya komunikasi telah berubah drastis.
" Ustadz dan da’i kini sering dituntut untuk mampu berbicara dengan bahasa yang lebih ringan, menggunakan istilah kekinian, bahkan gaya bahasa gaul ala generasi Z. Hal ini dimaksudkan agar pesan dakwah lebih mudah diterima dan dipahami oleh audiens yang beragama,"jelasnya
Meski begitu, Kyai Nursalim mengingatkan agar modernisasi dalam berdakwah tidak mengurangi esensi ajaran yang disampaikan. Dakwah tetaplah dakwah — sarana menyampaikan kebenaran dan menyeru kepada kebaikan. Penggunaan humor, gaya santai, atau bahasa populer memang dapat menjadi metode yang efektif untuk menarik perhatian, namun jangan sampai sisi kelucuannya lebih menonjol daripada nilai-nilai yang hendak ditanamkan.
"Ketika unsur hiburan mendominasi, ada risiko bahwa dakwah kehilangan ruh keilmuannya dan pendakwah kehilangan muru’ah atau kehormatan diri. Padahal, seorang da’i tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga menjadi cerminan akhlak dan kebijaksanaan Islam. Kehilangan muru’ah berarti kehilangan wibawa dan penghormatan dari umat,"katanya
Oleh karena itu, keseimbangan antara metode dan makna menjadi kunci dalam berdakwah di era modern. Para ulama perlu adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kebenaran.
"Dengan demikian, pesan agama dapat tersampaikan dengan baik, relevan dengan kondisi masyarakat, namun tetap berlandaskan pada kejujuran dan kemurnian ajaran Islam," tutupnya