KBRN;. Mamuju : Sungguh sumber hikmah itu datang dari segala arah, bahkan hikmah yang tersirat senantiasa menyertai setiap langkah perjalanan kita dengan segala macam cirinya.
Sungkan tak sungkan, indra manusia harusnya mengenali ciri tersebut. Dari sempurnanya indra manusia, Allah SWT menciptakan wujud itu untuk menjadi jalan petunjuk kearah yang sebenarnya arah sesuai dengan yang telah ditetapkan Allah jauh sebelum diturunkannya manusia ke muka bumi ini.
Perjalanan keajaiban hikmah berikut ini datang dari seorang muballigh pesohor di Sulawesi Barat yang dikenal dengan marga Mawardi. Doktor Muda, Furqan Mawardi, mengabdikan dirinya dibidang pendidikan perguruan tinggi dan pendidikan keagamaan islam pada pondok pesantren.
Melalui akhir tahun dengan perjalanan lintas daerah pada Minggu, 29 Desember 2024, membawa anak dan istrinya bersama sejumlah anak dari Panti Asuhan Muhammadiyah Manakarra menuju kota Makassar untuk berlibur dan bertemu dengan keluarga. Ia memutuskan berangkat mengendarai roda empat pada pukul 02.00 dini hari untuk menghindari macetnya jalan raya pada moment perayaan pergantian tahun.
Furqan Mawardi cukup lihai mengistirahatkan dirinya selepas sholat Isya dengan tidur malam yang pulas sehingga ia tidak begitu khawatir akan rasa kelelahan ketika memulai berkendara pada pukul 02.00 dini hari. Waktu-waktu itu juga sangat familiar untuknya sebagai waktu ibadah tahajjud dimalam hari sehingga ia terbiasa terbangun pada waktu demikian.
Pada jalan lintas Sulawesi, Furqan berkendara diantara lebatnya belantara hutan kota Mamuju. Yang nampak hanyalah gelapnya malam dan tebalnya kabut desember yang penuh dengan kondisi udara yang lembab akibat hujan yang mengguyur sepanjang waktu.
Diantara waktu dini hari dan menjelang fajar, Furqan dan rombongan tiba disebuah daerah sepi di sekitar Majene. Suara adzan pun terdengar berkumandang, menandakan tibanya waktu untuk melakasanakan solat wajib pada subuh hari. Ia dan yang lain singgah sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.
Setelah selesai berzikir dan berdoa, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Makassar. Namun beberapa saat setelah mobil melaju, terdengar suara krek yang mengganggu dari ban mobil sebelah kiri, rasa khawatirpun tak terelakkan. Furqan lalu mememinta anaknya, Ahmad kecil, untuk turun dan memeriksa. Alhasil, ban tidak terkunci dengan kuat karena baut yang longgar dan hampir terlepas.
Ditengah gelapnya suasana dengan fajar yang tak kunjung menjelang, Furqan dengan tenang mencari kunci roda untuk mengencangkan kembali baut yang kendur. Namun betapa terkejutnya ia, karena kunci roda yang biasanya tersimpan rapi di dalam mobil tak lagi terlihat didepan mata. Ia sontak mengambil handphone dan menghubungi seorang teman di Mamuju untuk mencari tahu dimana keberadaan kunci roda itu, sialnya kunci roda tersebut dipinjam orang lain dan belum dikembalikan hingga berangkatnya Furqan dari Mamuju.
Dengan hati yang mulai gelisah ia berdiri ditepi jalan, mencoba memberikan kode permintaan bantuan pada mobil lain yang lewat berharap ada satu diantaranya yang berhenti dan memberikan bantuan. Namun, suasana yang masih gelap dengan lokasi yang jauh dari keramaian membuat harapannya semakin menipis.
Furqan pun mencoba kembali menghubungi rekannya yang berada di Mamuju, namun jawaban yang ia dapati hanyalah diarahkan untuk mencari bantuan dari warga sekitar atau menunggu sampai ia dapati kendaraan yang singgah untuk memberi bantuan.
Dari kejauhan tiba-tiba terlihat seseorang yang berjalan mendekat. Seorang yang nampaknya sedang menikmati segarnya udara subuh tanpa banyaknya polusi. Tanpa berpikir banyak Furqan langsung mendekat dan bertanya, "Pak, bengkel terdekat dari sini dimana ya?". Belum lagi seorang ini sempat menjawab, Furqan tersadar bahwa seorang ini adalah bapak yang ia temui subuh tadi melaksanakan shalat berjamaah di Masjid terdekat.
Ayah lansia dengan wajah yang ramah, menyapa Furqan saat duduk berdampingan pada shaff shalat subuh setelah heningnya do’a subuh yang dipanjatkan bersama pada masjid tersebut. Ternyata, beliau adalah sosok yang tidak hanya hadir dalam ibadah bersama, tetapi menjadi perantara jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya.
Dengan garis senyum yang indah ia menyarankan Furqan untuk membawa mobil yang ia kendarai bersama keluarga dan anak-anak panti menuju kesebuah bengkel terdekat. Dengan senang hati, ia mendampingi dan mengantar hingga sampai pada tempat yang dituju. Bengkel yang ternyata masih tutup karena belum tibanya waktu fajar.
Lansia ramah dengan sejuta kebaikan yang tersirat di wajahnya itu, dengan lihai berkomunikasi dengan pemilik bengkel untuk dapat memberikan sedikit bantuan. Benar saja akhirnya bengkel itu dibuka dan Furqan dapat dengan segera memperbaiki kerusakan pada ban mobil. Beberapa saat mengutak-atik ban mobil bersama pemilik bengkel, akhirnya mobil itu kembali dalam keadaan yang normal dan siap melanjutkan perjalanan.
Setelah insiden itu berlalu Furqan diam dan merenung. Ia begitu merasakan suatu keajaiban yang diperlihatkan sang maha pencipta Allah SWT. Keajaiban yang diperoleh dari dekatnya qalbu pada sang pencipta yang dituangkan dalam heningnya shalat subuh. Ia tersadar bahwa shalat subuh lebih dari sekadar ibadah ritual yang ternyata memiliki nilai sosial yang begitu besar.
Dari pengalaman ini, ia menyadari betapa besarnya manfaat dari melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Bukan hanya dalam konteks pahala dan ibadah kepada Tuhan, tetapi juga dalam konteks sosial. Ibadah yang mempertemukan umat dalam keheningan, mengikat persaudaraan dalam iman dan saling membantu dalam keperluan tanpa memandang latar belakang.
Sebuah pengalaman yang mengingatkan Furqan akan sabda Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya shalat berjamaah, bahkan sebuah riwayat menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah S.AW merasa ingin membakar rumah seseorang yang tidak mengutamakan shalat berjamaah di masjid.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa shalat berjamaah tidak hanya berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kepada sang Ilahi, namun juga sebagai sarana untuk membangun nilai sosial yang tinggi.
Persaudaraan, tolong-menolong, dan berbagi kebersamaan semua itu tersirat dalam shalat berjamaah. Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan, ibadah bukanlah sekadar hubungan individu seseorang dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia.
Bagi Doktor muda ini, perjalanan itu adalah bukti nyata bahwa shalat berjamaah di masjid memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan sosial kita. Ia membuka pintu bagi kebaikan, mengajarkan kita untuk saling membantu dan peduli terhadap sesama.
Seperti yang ia alami, kadang bantuan datang dari tempat yang tidak terduga, hanya karena melaksanakan kewajiban dengan ikhlas.
Ia pun kini semakin yakin, bahwa shalat berjamaah di masjid bukan hanya tentang mendapatkan pahala, tetapi juga tentang menciptakan kehidupan yang lebih baik, penuh empati, dan gotong-royong.
Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia, tidak ada yang lebih indah selain menemukan kedamaian dan kehangatan dalam kebersamaan sholat berjamaah di masjid.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....