Kemarau Panjang, DTPHP Sulbar Catat Penurunan Luas Tanam Padi di Majene dan Polman
- 07 Okt 2026 06:37 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Provinsi Sulawesi Barat mencatat penurunan luas tanam padi di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Penurunan luas tanam pada kawasan sawah tadah hujan akibat dampak kemarau panjang.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHP Sulawesi Barat, Masnawi Malik usai dialog di RRI Mamuju, Selasa 6 Oktober 2026.
Masnawi menjelaskan, para petani di Kabupaten Majene cenderung lebih waspada dan menahan diri untuk tidak melakukan pertanaman sejak adanya peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.
"Kalau di Majene, sejak ada peringatan dari BMKG, luas pertanamannya memang sudah agak turun karena kondisi lahan yang betul-betul kering," kata Masnawi di Mamuju, Selasa (6/10/2026).
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, di mana dampak kemarau paling parah meresahkan para petani yang mengandalkan sistem sawah tadah hujan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya, para petani di Polman tetap nekat berspekulasi menanam padi dengan mengandalkan mesin pompa air. Namun, penurunan drastis debit air tanah dan sungai saat ini membuat mesin pompa tidak dapat difungsikan secara optimal.
"Petani di Polman tetap menanam karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya air masih ada meski kering. Kebanyakan pompa air mereka sudah disiapkan, tetapi sekarang masalah utamanya adalah sumber airnya yang mengering sehingga pompa tidak bisa menyedot air," terangnya.
DTPHP Sulbar terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten guna memetakan potensi sumber air alternatif serta menyalurkan bantuan penanganan darurat bagi kawasan pertanian yang terdampak krisis air akibat kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....