Lihat Makanan Viral di FYP, Tiba-tiba Ingin Beli
- 29 Agt 2026 08:02 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Fenomena "awalnya cuma lihat makanan viral, tiba-tiba pengen beli juga" yang ramai dikeluhkan warganet di media sosial ternyata punya penjelasan ilmiah. Sejumlah riset psikologi konsumen menyebut fenomena ini erat kaitannya dengan rasa takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO) yang dipicu paparan konten kuliner secara terus-menerus di media sosial.
Penelitian yang membahas fenomena FOMO dalam pembelian produk food and beverage (FnB) menemukan bahwa paparan konten kuliner yang terus-menerus dan interaktif di media sosial, khususnya di kalangan Generasi Z, terbukti meningkatkan rasa FOMO dan mendorong niat beli konsumen.
Rasa takut ketinggalan tren serta keinginan untuk turut berbagi pengalaman menjadi faktor pendorong utama seseorang akhirnya memutuskan membeli makanan atau minuman yang viral, meski sebelumnya tidak ada rencana untuk itu.
Riset tersebut menyimpulkan bahwa individu terdorong melakukan pembelian bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan karena ingin berpartisipasi dalam euforia kolektif yang tercipta di linimasa media sosial. Kondisi ini diperkuat oleh promosi terbatas dan ulasan dari kreator konten atau influencer di Instagram maupun TikTok yang menciptakan rasa urgensi dan eksklusivitas.
Fenomena serupa juga ditemukan dalam kajian tentang pembelian impulsif melalui aplikasi pesan-antar makanan daring. Studi ini mengungkap bahwa promosi yang dipadukan dengan emosi positif dan motivasi hedonis (dorongan untuk mencari kesenangan sesaat) secara signifikan mendorong perilaku pembelian spontan pada pengguna layanan pesan-antar makanan.
Selain faktor sosial media, penelitian lain menyoroti peran tampilan produk yang menarik secara visual maupun audiovisual sebagai pemicu reaksi emosional yang berujung pada keputusan membeli tanpa perencanaan.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh mekanisme seperti penawaran waktu terbatas (limited-time offers) dan gamifikasi dalam aplikasi belanja daring, yang menurut kajian akademis turut mendorong lonjakan perilaku belanja impulsif berbasis dorongan emosional dan kognitif.
Menariknya, riset turut menyoroti fenomena "self-reward" sebagai bentuk rasionalisasi dari perilaku belanja impulsif. Konsumen kerap menganggap pembelian makanan viral sebagai bentuk penghargaan untuk diri sendiri, sebuah narasi yang menurut peneliti sengaja dibangun secara sistematis oleh ekosistem digital untuk menciptakan kondisi psikologis yang mendukung kegiatan konsumtif.
Sebuah inovasi bertajuk "Nomo Project" yang digagas pelajar turut menyoroti persoalan ini, dengan mencatat bahwa tren makanan dan minuman viral di media sosial kerap mendorong masyarakat membeli makanan secara impulsif tanpa mempertimbangkan aspek gizi maupun kebutuhan sebenarnya, sekaligus berkontribusi pada masalah pemborosan pangan.
Fenomena algoritma For Your Page yang mempertemukan pengguna dengan konten kuliner viral secara masif menunjukkan bagaimana teknologi digital tidak sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga arena yang secara sistematis membentuk pola konsumsi baru di masyarakat.
Memahami mekanisme psikologis di baliknya menjadi penting agar konsumen bisa lebih bijak memilah antara kebutuhan dan sekadar dorongan sesaat akibat tren.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....