Pindang Bandeng, Jejak Akulturasi Kuliner Tionghoa dan Nusantara
- 10 Feb 2026 14:52 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju – Dalam perayaan Imlek, ikan selalu hadir sebagai hidangan utama, salah satunya adalah pindang bandeng yang merupakan sajian berkuah kaya rasa dan sarat makna.
Dibalik kelezatannya, pindang bandeng merekam jejak panjang akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara yang terjalin lewat dapur dan tradisi keluarga.
Ikan bandeng atau yang biasa disebut ikan bolu oleh masyarakat Sulawesi, melambangkan kelimpahan dan rezeki yang berkesinambungan dalam budaya Tionghoa, penyajian ikan secara utuh pada perayaan Imlek menjadi doa agar keberuntungan mengalir sepanjang tahun, nNilai ini kemudian bertemu dengan tradisi kuliner Nusantara yang akrab dengan olahan pindang, masakan berkuah dengan perpaduan rasa asam, manis, dan gurih dari rempah-rempah lokal.
Bandeng dipilih karena mudah ditemukan di wilayah pesisir Indonesia dan memiliki daging tebal yang cocok diolah menjadi pindang.
Dalam proses akulturasi, bumbu-bumbu khas Nusantara seperti asam, bawang, dan rempah lokal berpadu dengan sentuhan rasa yang disesuaikan dengan selera Tionghoa, menghasilkan pindang bandeng yang kaya rasa namun tetap seimbang.
Bagi banyak keluarga Tionghoa-Indonesia, pindang bandeng bukan hanya menu spesial, melainkan warisan rasa.
Resepnya sering kali diturunkan dari generasi ke generasi dan mengalami penyesuaian kecil sesuai selera keluarga.
Pindang bandeng menunjukkan bahwa kuliner mampu menjadi ruang dialog antarbudaya. Di dalam satu panci, nilai-nilai tradisi, sejarah, dan identitas bertemu tanpa sekat. Setiap suapan tak hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga cerita tentang bagaimana keberagaman Indonesia terjalin secara alami.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....