Angkat Jepa Mandar ke Panggung Nasional Lewat Seminar
- 06 Des 2025 06:22 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Upaya pelestarian kuliner tradisional Mandar kembali mendapat perhatian nasional. Seorang dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) berhasil meraih pendanaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII melalui Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang mengangkat jepa ke panggung nasional.
Dukungan ini menjadi bahan bakar terselenggaranya Seminar Integrasi Tradisi dan Sains: Eksplorasi Potensi Jepa, sebuah forum yang mempertemukan pengetahuan lokal dan riset ilmiah untuk memperkuat ketahanan pangan Mandar.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Unsulbar (Indrawati, S.Kep.,Ns.,M.Kes) dan turut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Majene, pada Jumat 6 Desember 2025.
Kolaborasi lintas lembaga ini mempertegas bahwa penguatan budaya daerah membutuhkan gerakan bersama.
Menariknya, seminar ini mampu menyedot antusiasme masyarakat. Sebanyak 265 peserta memadati lokasi kegiatan, mulai dari penggiat Jepa, mahasiswa berbagai jurusan, pelaku budaya, hingga dinas terkait. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa Jepa bukan sekadar pangan tradisional, tetapi simbol identitas Mandar yang semakin diperjuangkan eksistensinya.
Empat narasumber dihadirkan untuk memperkaya wawasan peserta.
Budayawan Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, membuka pemaparan dengan menggali jejak panjang evolusi Jepa dalam sejarah peradaban masyarakat pesisir. Kisah tentang asal-usul dan dinamika kuliner ini memantik diskusi mendalam tentang bagaimana Jepa menjadi bagian penting identitas Mandar.
Dilanjutkan oleh Hj. Muzrifah Nur, SP., M.Si, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Majene, yang menekankan bahwa Jepa tidak hanya bernilai budaya, tetapi memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan lokal dan nasional. Di tengah isu krisis pangan global, pangan lokal seperti Jepa dinilai mampu menjadi solusi alternatif yang berkelanjutan.
Sementara itu, Muh. Afiat Mulwan, ST., MT., penyusun borang Jepa sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb), memaparkan bagaimana Jepa Mandar saat ini sedang diarahkan menuju pengakuan lebih luas, bahkan berpeluang menjadi warisan dunia.
Paparan ilmiah ditutup oleh akademisi Prodi Gizi Unsulbar, Andi Sri Rahayu Kasma, S.Gz., M.PH, yang membagikan temuan riset terbaru terkait inovasi produk, kandungan gizi Jepa, hingga peluang pengembangannya menjadi pangan fungsional masa depan.
Ketua panitia, Riska Mayangsari, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dan memberi dukungan, khususnya BPK Wilayah XVIII. Melalui seminar ini, kami ingin menunjukkan bahwa Jepa bukan hanya tradisi, tetapi potensi besar untuk pengembangan pangan lokal yang bernilai budaya dan ekonomi,” ujarnya.
Riska berharap momentum ini menjadi pintu pembuka bagi riset lanjutan, hilirisasi produk, dan percepatan pengakuan Jepa sebagai warisan budaya yang diperhitungkan secara nasional.
Dengan semakin kuatnya sinergi akademisi, komunitas budaya, dan pemerintah, Jepa Mandar kini tidak lagi hanya hadir di dapur-dapur masyarakat, tetapi mulai menapaki panggung yang lebih luas, dari warisan leluhur menuju pangan masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....