Mengapa Terkadang kita Merasakan Kehadiran Makhluk Tak Kasat Mata?
- 01 Jul 2024 22:09 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Dalam dunia psikologi, fenomena ini ini dikenal sebagai “kehadiran yang dirasakan” atau “felt presence.” Ben Alderson-Day, seorang associate professor bidang psikologi di Universitas Durham, Inggris, telah mengeksplorasi fenomena ini dalam bukunya yang berjudul Presence: The Strange Science and True Stories of the Unseen Other.
Alderson-Day mengungkap bahwa “kehadiran yang dirasakan” tidak terbatas pada individu yang berada dalam situasi ekstrem.
Orang biasa pun bisa mengalami sensasi ini, yaitu merasa ada orang lain yang tak terlihat berada di sekitar mereka.
Pengalaman ini sering terjadi setelah peristiwa kehilangan, kesedihan yang mendalam, atau pada orang dengan gangguan psikosis – kondisi di mana individu sulit membedakan antara kenyataan dan imajinasi.
Menariknya, sebanyak seperempat dari penderita Parkinson juga melaporkan mengalami “kehadiran yang dirasakan.”
Fenomena ini bisa muncul ketika seseorang sedang dalam transisi antara tidur dan bangun, sering kali dalam bentuk kelumpuhan tidur (sleep paralysis).
Dalam kondisi ini, individu merasa tidak dapat bergerak atau berbicara dan sering kali merasa ada kehadiran yang menindih dada mereka.
Alderson-Day menjelaskan bahwa pengalaman ini kerap melibatkan kelumpuhan tidur, di mana orang yang mengalaminya merasakan kehadiran yang menakutkan.
Fenomena ini tidak dirasakan melalui panca indera, sehingga tidak dianggap sebagai halusinasi.
Namun, pengalaman ini juga bukan delusi, karena terlalu nyata untuk dianggap sebagai imajinasi belaka.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor fisik dan psikologis memainkan peran penting dalam “kehadiran yang dirasakan.”
Pendaki gunung dan penjelajah sering melaporkan mengalami halusinasi akibat kekurangan oksigen di otak.
Selain itu, dalam situasi bertahan hidup, pikiran manusia mungkin menciptakan perasaan kehadiran untuk membantu mereka melalui rintangan.
Beberapa orang lebih rentan terhadap fenomena ini daripada yang lain.
Penelitian Alderson-Day menunjukkan bahwa perempuan lebih cenderung melaporkan “kehadiran yang dirasakan” dan sering kali menganggap pengalaman tersebut mengganggu. Fenomena ini juga lebih sering terjadi pada orang muda.
Di sebuah laboratorium di Jenewa, para peneliti bahkan berhasil menciptakan kondisi di mana seseorang merasa ada orang lain di belakang mereka menggunakan sebuah robot yang dirancang khusus.
Penelitian ini menemukan bahwa orang dengan Parkinson sangat rentan terhadap pengalaman tersebut.
Aktivitas otak yang tidak biasa ditemukan di beberapa area, termasuk persimpangan temporoparietal, insula, dan korteks frontoparietal. Area ini terkait dengan integrasi panca indera dan kesadaran akan posisi tubuh.
Alderson-Day berhipotesis bahwa “kehadiran yang dirasakan” mungkin disebabkan oleh hilangnya persepsi terkait batas-batas tubuh kita.
Fenomena ini menunjukkan betapa kompleks dan misteriusnya pikiran manusia, serta bagaimana kondisi fisik dan psikologis dapat mempengaruhi persepsi kita tentang dunia di sekitar kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....