Hubungan Paling Toxic Itu Bukan Mantan, tapi Alarm Pagi

  • 25 Apr 2026 06:29 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Pagi hari seharusnya jadi awal yang segar, udara masih bersih, pikiran belum terlalu penuh dan semangat. Ya, setidaknya secara teori masih ada.

Tapi bagi sebagian orang, pagi justru dimulai dengan satu konflik kecil yang berulang setiap hari: pertarungan melawan alarm.

Bunyi alarm yang nyaring sering kali tidak sekadar berfungsi sebagai pengingat waktu bangun. Ia berubah menjadi “lawan bicara” pertama di hari itu.

Tombol snooze pun jadi jalan tengah yang menenangkan—meski hanya sementara. Lima menit tambahan terasa seperti kemenangan kecil, walau pada akhirnya berujung pada kepanikan yang sama.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal sepele. Banyak orang mengalami apa yang disebut sleep inertia, kondisi di mana tubuh dan otak belum sepenuhnya “online” saat baru bangun.

Dalam fase ini, rasa malas, pusing, hingga keinginan untuk kembali tidur terasa sangat kuat. Alarm yang berbunyi di saat kondisi ini terjadi sering dianggap sebagai gangguan, bukan bantuan.

Di sisi lain, gaya hidup modern juga ikut memperparah hubungan “tidak sehat” ini. Kebiasaan begadang, penggunaan ponsel sebelum tidur, hingga jadwal yang tidak konsisten membuat kualitas tidur menurun.

Akibatnya, bangun pagi terasa seperti dipaksa keluar dari kenyamanan, bukan sebagai rutinitas yang alami.

Menariknya, banyak orang sadar bahwa alarm itu penting—tanpanya, aktivitas harian bisa berantakan. Namun, kesadaran itu tidak selalu sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Setiap pagi tetap saja diwarnai negosiasi: “lima menit lagi” yang bisa berulang hingga beberapa kali.

Meski terdengar sepele, kebiasaan ini bisa berdampak pada produktivitas. Terlalu sering menekan snooze dapat membuat waktu bangun menjadi tidak konsisten, sehingga ritme tubuh terganggu.

Hasilnya, rasa lelah justru bertahan lebih lama sepanjang hari.

Solusinya bukan sekadar mengganti nada alarm jadi lebih lembut atau lebih keras. Kuncinya ada pada memperbaiki pola tidur secara keseluruhan, mulai dari jam tidur yang teratur, mengurangi paparan layar sebelum tidur, hingga menciptakan suasana kamar yang nyaman. Dengan begitu, bangun pagi tidak lagi terasa seperti “pertempuran”.

Pada akhirnya, alarm pagi memang bukan musuh. Ia hanya menjalankan tugasnya. Tapi kalau setiap hari terasa seperti hubungan yang penuh drama, mungkin yang perlu diperbaiki bukan alarmnya—melainkan cara kita memperlakukan waktu istirahat.

Dan ya, kalau masih juga susah bangun, mungkin ini satu-satunya hubungan yang tidak bisa diselesaikan dengan kata, “kita putus saja.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....