Bukan Sekadar Marah: Reaksi Emosi Berlebihan Bisa Berasal dari Luka Masa Kecil
- 08 Apr 2026 14:47 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Banyak orang menganggap dirinya pemarah ketika emosi mudah meledak atau tersinggung oleh hal-hal kecil. Namun, kondisi tersebut tidak selalu sekadar persoalan temperamen.
Reaksi emosional yang kuat sering kali berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang belum selesai, terutama yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Hal ini disampaikan oleh dr. Yuliana, seorang hypnotherapist dari House of Peace dalam akun tiktok pribadinya @dr.yuliana.cht.
Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa cara mereka bereaksi terhadap emosi terbentuk dari pola relasi di masa kecil.
“Banyak orang merasa dirinya pemarah. Padahal sering kali yang muncul bukan sekadar marah, tapi reaksi dari luka lama yang belum selesai. Cara kita bereaksi saat emosi, cara kita bertengkar, bahkan cara kita menahan marah, sering terbentuk dari relasi kita dengan orang tua di masa kecil,” jelas dr. Yuliana, Rabu 8 April 2026.
Ia menambahkan, pengalaman seperti sering dimarahi, diabaikan, atau tidak didengarkan dapat membuat tubuh belajar bertahan dengan caranya sendiri. Pola tersebut kemudian terbawa hingga dewasa tanpa disadari.
“Kalau dulu kita sering dimarahi, diabaikan, atau tidak didengarkan, tubuh kita belajar untuk bertahan. Masalahnya, pola itu sering terbawa sampai dewasa. Akhirnya kita bisa marah berlebihan, mudah tersinggung, atau justru menahan semuanya sendirian,” ujarnya.
Menurut dr. Yuliana, memahami asal-usul emosi bukan berarti menyalahkan orang tua atau masa lalu. Sebaliknya, pemahaman tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran diri dan memperbaiki pola yang tidak sehat.
“Memahami ini bukan untuk menyalahkan orang tua. Tapi supaya kita bisa lebih sadar dengan emosi kita sendiri dan mulai memperbaiki pola yang tidak sehat,” kata dia.
Ia juga menekankan bahwa luka masa kecil tidak harus menentukan siapa seseorang di masa depan. Proses refleksi diri dan penyembuhan emosional dapat membantu seseorang membangun respons yang lebih sehat terhadap situasi yang memicu emosi.
“Luka masa kecil tidak harus menentukan siapa kita selamanya. Kalau kamu merasa emosimu kadang lebih besar dari situasinya, mungkin ini saatnya melihat lebih dalam ke dalam diri,” tambahnya.
Kesadaran terhadap akar emosi dinilai penting agar seseorang tidak terus terjebak dalam siklus reaksi yang sama. Dengan memahami sumbernya, individu dapat belajar merespons dengan lebih tenang, membangun komunikasi yang sehat, dan mengurangi konflik dalam hubungan sosial maupun keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....