Homo Naledi Menjadi Spesies Paling Apes dalam Sejarah Evolusi Manusia

  • 30 Sep 2026 20:00 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Dari semua manusia purba yang pernah hidup di bumi, ada satu spesies yang nasibnya paling apes. Bukan cuma punah, tapi punah dengan cara yang bikin ilmuwan sendiri geleng-geleng kepala.

Namanya Homo Naledi dan cerita hidupnya tuh kayak takdir yang sengaja dibikin buat nge-prank dia.

1. Penemuan di Gua Neraka Bernama Rising Star Cave

Semuanya berawal pada tahun 2013. Fosil Homo Naledi pertama kali ditemukan di Gua Afrika Selatan bernama Rising Star Cave System, yang terletak di Cradle of Humankind, 30 mil dari Johannesburg.

Gua ini dijuluki gua neraka karena untuk sampai ke ruang fosilnya yang bernama Dinaledi Chamber, ilmuwan modern saja harus ngesot, mutar badan, merangkak di celah sempit selebar 18 CM saja. Gelap total, pengap, dan berbahaya.

Pertanyaannya, ngapain juga manusia purba jauh-jauh masuk ke gua sedalam dan sesempit itu? Tim peneliti yang dipimpin oleh paleoantropolog Lee R. Berger dari University of the Witwatersrand menemukan lebih dari 1.550 fragmen tulang yang mewakili sedikitnya 15 individu, dari bayi sampai orang tua.

Ini adalah kumpulan fosil hominin terbesar yang pernah ditemukan di Afrika dalam satu spesies. Spesies ini kemudian diberi nama Homo Naledi, 'Naledi' artinya 'bintang' dalam bahasa Sotho. b1f6

2. Fisiknya Serba Nanggung: Setengah Kera, Setengah Manusia

Fisiknya juga aneh dan serba nanggung. Tinggi badannya sekitar 150 cm, berat 40-45 kg, mirip manusia kecil.

Otaknya? Cuma sepertiga otak kita, sekitar 460 - 610 cc, mirip otak kera atau Australopithecus. Tapi dari leher ke bawah, dia sudah modern.

Tangan dan pergelangannya memiliki kemampuan manipulasi seperti manusia modern yang mampu membuat alat. Kakinya juga sudah modern, didesain untuk berjalan jauh.

Namun bahu, batang tubuh, dan panggulnya masih primitif seperti kera pemanjat pohon. Jadi bayangin dia setengah manusia gua, setengah manusia pohon.

Kontradiksi anatomi yang bikin ilmuwan bingung dia ini masuk Homo apa bukan.

3. Teori yang Bikin Merinding: Sengaja Menguburkan Mayat?

Ini bagian paling kontroversial. Karena tidak ada jejak predator atau banjir yang membawa tulang-tulang itu ke dalam, teori utama Berger adalah Homo Naledi sengaja menguburkan mayatnya di sana.

Mereka membawa mayat-mayat itu melewati celah 18 cm yang gelap gulita ke dalam gua untuk ritual pemakaman.

Ini kayak nemu anak SD yang tiba-tiba ngerti kalkulus. Bagaimana mungkin makhluk dengan otak sekecil itu sudah punya konsep kematian dan ritual?

Jika benar, ini akan menjadi bukti penguburan tertua dalam sejarah, 100.000 tahun lebih tua dari penguburan Homo Sapiens.

Tapi sampai sekarang ilmuwan masih berdebat sengit. Klaim penguburan yang diumumkan lewat preprint dan film Netflix tahun 2023 itu mendapat kritik pedas.

Banyak peneliti mengatakan bukti sedimen tidak cukup kuat, dan lubang yang dianggap kuburan bisa jadi cekungan alami.

Studi terbaru tahun 2025 di jurnal PaleoAnthropology bahkan menyimpulkan tidak ada bukti kuat bahwa tanah di sekitar fosil pernah digali secara sengaja.

4. Makin Apes: Hidup Sezaman Sama Jagoannya

Yang bikin makin apes, hasil penanggalan langsung oleh Dirks dkk pada tahun 2017 menunjukkan umur fosil Homo Naledi itu bukan jutaan tahun, tapi cuma 236.000 sampai 335.000 tahun yang lalu. Artinya dia hidup berdampingan sama Homo Sapiens awal dan Neanderthal.

Jadi dia bukan cuma harus survive dari alam liar, dia harus bersaing dengan dua spesies yang jauh lebih unggul secara teknologi dan otak. Lawannya sudah pakai tombak dan api yang lebih canggih, dia masih dengan otak sepertiga.

Kayak masuk kompetisi lari tapi lawannya sudah pakai motor. Dan pada akhirnya, dia punah tanpa jejak.

Tidak ada warisan DNA sama sekali di tubuh kita, tidak seperti Neanderthal yang 2% DNA-nya masih ada di manusia modern. Cuma tulang di dasar gua yang susah banget dijangkau.

Homo Naledi dikenang sebagai pengingat bahwa evolusi itu tidak linear. Otak besar bukan satu-satunya jalan menuju perilaku kompleks.

Sumber Terpercaya:

  1. Berger, L.R., et al. (2015). Homo naledi, a new species of the genus Homo from the Dinaledi Chamber, South Africa. Journal eLife. DOI: 10.7554/eLife.09560 - Publikasi awal penemuan 1550 fosil.
  2. Dirks, P.H.G.M., et al. (2017). The age of Homo naledi and associated sediments in the Rising Star Cave, South Africa. eLife. - Penentuan umur fosil 236-335 ribu tahun.
  3. http://Science.org (2024). Did an ancient human relative really bury its dead? - Laporan debat ilmiah tentang klaim penguburan yang masih kontroversial.
  4. Berger, L.R., et al. (2023-2025). Preprint di eLife tentang bukti penguburan dan ukiran geometris di Rising Star Cave, yang masih dalam proses peer-review ulang.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....