Ancaman Instan AI terhadap Daya Pikir Manusia
- 07 Feb 2026 09:39 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju – Kemudahan yang ditawarkan Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan digital dinilai membawa tantangan serius terhadap daya pikir manusia. Akses informasi yang serba cepat dan instan berpotensi membuat masyarakat mengabaikan proses berpikir mendalam jika tidak diimbangi dengan pemahaman dan literasi yang memadai.
Fenomena penggunaan AI tersebut disampaikan Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Shalahuddin, saat menjadi narasumber dialog interaktif Literasi Digital RRI Mamuju, Selasa, 3 Februari 2026
“Kenapa nyaman? (Menggunakan AI) karena proses untuk mengakses itu cukup instan, cukup mudah. Dalam konstruksi sosial kehidupan kita, kalau misalnya untuk menjadi orang yang eksis, yang tampil, yang ditokohkan, menjadi figur, sederhananya yang paling populer kita hari ini, kita menjadi seleb di media sosial cukup dengan bahan-bahan yang kelihatan kita tampak cerdas, tapi sesungguhnya kita khawatirkan justru jauh ke dalam itu kita mengalami kerapuhan, kerapuhan intelektual,” ujarnya.
Ia menilai, pola instan tersebut mendorong masyarakat melewati tahapan belajar yang seharusnya dilalui secara bertahap. Akibatnya, kemampuan memahami ilmu pengetahuan secara utuh menjadi lemah meskipun informasi tersedia melimpah.
| Baca juga: Akses Internet di Daerah Pedalaman |
Lebih lanjut, Shalahuddin menyoroti dampak penggunaan teknologi digital yang berlebihan terhadap kondisi mental dan daya pikir manusia. Interaksi berkepanjangan dengan perangkat digital dinilai memberi tekanan tersendiri pada otak, meski sering kali tidak disadari oleh penggunanya.
“Kadang-kadang ada pertanyaan kenapa kita gampang lelah padahal kita tidak kerja apa-apa, iya karena otak kita sibuk terlalu panjang berinteraksi dengan layar smartphone dan itu cukup melelahkan tapi kita tidak sadar. Dahulu rokok punya iklan dan disebut oleh WHO hati-hati jangan sampai merusak atau mengambil paru-paru anda, tapi smartphone hari ini bukan hanya paru-paru yang diambil, jiwa kita sudah diambil dan ini ada kondisi-kondisi etis, kondisi keamanan dan perlindungan yang cukup urgent untuk kita perhatikan,” tambahnya.
Ia menegaskan, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu yang memperkuat nalar manusia, bukan menggantikannya. Melalui dialog tersebut, masyarakat diimbau untuk menggunakan teknologi secara bijak, memperkuat literasi digital, serta tetap mengedepankan daya pikir kritis agar kemudahan AI tidak menjadikan manusia nyaman, namun rapuh secara intelektual.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....