Mengeja Harapan Baru dalam Setiap Huruf Hijaiyah Lapas

  • 21 Apr 2026 12:58 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju – Suara riuh rendah pelafalan huruf hijaiyah terdengar syahdu dari balik dinding beton Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Mamuju, Selasa 21 April 2026.

Di tengah keterbatasan ruang gerak, para warga binaan justru menemukan kebebasan dari buta aksara Al-Qur’an.

Melalui program pembelajaran Iqra yang diintensifkan, pihak Lapas berusaha mengubah stigma penjara menjadi tempat persemaian karakter.

Kepala Lapas Perempuan Kelas III Mamuju, Hj. Rava Shilvia Dewi, mengungkapkan bahwa pembinaan kepribadian berbasis religi adalah "jantung" dari perubahan perilaku warga binaan.

Dalam wawancara eksklusif bersama RRI, Rava Shilvia Dewi menjelaskan bahwa banyak warga binaan yang masuk ke lapas dalam kondisi belum mengenal huruf Al-Qur'an sama sekali.

Hal inilah yang mendorongnya untuk menjadikan program Iqra sebagai agenda prioritas.

"Kami tidak ingin mereka keluar dari sini hanya dengan membawa keterampilan menjahit atau memasak saja. Lebih dari itu, kami ingin mereka 'pulang' kepada Tuhan. Memulai dari Iqra bukan sekadar belajar membaca, tapi belajar mengenal diri dan memperbaiki akhlak," ujar Rava Shilvia Dewi kepada RRI.

Proses pembelajaran ini tidaklah instan. Dengan pendampingan petugas, warga binaan diajarkan dengan penuh kesabaran. Rava menekankan bahwa kurikulum yang diterapkan bersifat personal, mengingat kemampuan setiap individu berbeda-beda.

"Ada rasa haru saat melihat mereka yang tadinya kaku mengucapkan Alif, Ba, Ta, sekarang sudah mulai lancar merangkai ayat. Lingkungan di sini menjadi sangat kondusif karena mereka saling menyemangati, bukan saling menghakimi masa lalu masing-masing," tambahnya.

Bagi Rava, keberhasilan sejati dari seorang pimpinan lapas bukanlah saat hunian tertib tanpa kerusuhan, melainkan saat warga binaannya mampu berintegrasi kembali dengan masyarakat tanpa rasa rendah diri.

Pembinaan mental melalui Al-Qur’an ini diharapkan menjadi benteng pertahanan bagi para perempuan ini agar tidak terjerumus ke lubang yang sama di masa depan.

"Harapan saya besar. Saat mereka bebas nanti, mereka kembali ke keluarga sebagai ibu atau anggota masyarakat yang lebih religius. Inilah esensi dari reintegrasi sosial yang sesungguhnya; mereka kembali dengan jiwa yang baru," pungkas Rava menutup perbincangannya dengan RRI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....