Inflasi Yoy Mamuju Januari 2026 Tembus 6,94 Persen
- 02 Feb 2026 14:46 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Inflasi year on year (yoy) atau tahun ke tahun di Kabupaten Mamuju periode Januari 2026 tercatat cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mamuju mencatat inflasi tahunan mencapai 6,94 persen, dipengaruhi oleh sejumlah komoditas yang memberikan andil signifikan terhadap pergerakan harga.
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Mamuju, Syfa Aulia Rahmi, menjelaskan bahwa inflasi tahun ke tahun yang terjadi pada Januari 2026 tersebut dipicu oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama, terutama dari kelompok tarif listrik dan bahan pangan.
“Inflasi tahun ke tahun atau year on year yang jatuh pada bulan Januari 2026 sebesar 6,94 persen,” ujar Syfa dalam keterangan resminya secara virtual, Senin, 2 Februari 2026.
Ia merinci, komoditas yang memberikan andil dominan positif terbesar terhadap inflasi adalah tarif listrik dengan andil sebesar 1,92 persen. Selanjutnya, ikan cakalang memberikan andil sebesar 1 persen, ikan layang sebesar 0,81 persen, beras sebesar 0,46 persen, emas perhiasan sebesar 0,37 persen, serta ikan tuna dengan andil 0,24 persen.
Selain itu, terdapat pula beberapa komoditas yang memberikan andil dominan negatif atau menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain cabai rawit dengan andil minus 0,13 persen, tomat sebesar minus 0,08 persen, serta wafer yang memberikan andil minus 0,06 persen.
Syfa menambahkan, secara umum tingginya inflasi yoy di Kabupaten Mamuju pada awal tahun ini perlu menjadi perhatian, khususnya dalam menjaga stabilitas harga komoditas strategis yang banyak dikonsumsi masyarakat.
BPS Kabupaten Mamuju berharap data ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi ke depan.
Sekadar diketahui Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, yang menyebabkan daya beli uang menurun karena jumlah uang yang sama hanya bisa membeli lebih sedikit barang atau jasa. Ini merupakan indikasi penurunan nilai mata uang dan biasanya diukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan membandingkan harga-harga rata-rata dari berbagai sektor.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....