Gen Z Lebih Pilih Kejar Wishlist Liburan Daripada Jenjang Karir?
- 26 Agt 2026 13:01 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - "Gaji pertama buat ke Jepang." "Umur 25 harus udah ke 10 negara." "Kerja buat healing, bukan buat jadi budak korporat." Sound familiar?
Fenomena ini lagi nyata banget. Banyak Gen Z yang sekarang lebih semangat nabung buat tiket pesawat daripada nabung buat DP rumah atau sertifikasi karir.
Bukan karena Gen Z pemalas. Tapi karena prioritasnya udah beda.
5 Alasan Kenapa Gen Z Pilih Liburan Dulu
1. "YOLO" Tapi Versi Sadar
Gen Z tumbuh di era pandemi, PHK massal, dan berita krisis.
Pola pikirnya: "Gue nggak tau 5 tahun lagi masih ada apa nggak. Jadi nikmatin sekarang."
Liburan = cara mereka ngumpulin memori sebelum "telat". Karir bisa dikejar nanti.
2. Konten = Mata Uang Sosial
Buat Gen Z, liburan bukan cuma healing. Itu konten.
1 trip ke Bali/Nusa Penida bisa jadi 30 konten TikTok + IG.
Pengalaman = personal branding. Bisa dipake buat portfolio, bisnis, bahkan cari kerja.
"Kerja kantoran nggak ada story-nya", katanya.
3. Burnout Sama Hustle Culture
Orang tua kita: "Kerja keras dulu, pensiun baru nikmatin."
Gen Z: "Kerja keras terus mati muda? Nggak makasih."
Mereka udah liat kakaknya/ortunya kerja 12 jam tapi tetap stres.
Jadi pilih: kerja secukupnya, sisanya buat hidup. Liburan jadi reward wajib.
4. Karir Nggak Se-Pasti Dulu
Dulu lulus → kerja 1 perusahaan → pensiun.
Sekarang: kontrak, freelance, PHK, startup bangkrut.
Jenjang karir udah nggak linear.
Daripada stres mikirin promosi yang nggak pasti, mending uangnya dipake buat pengalaman yang pasti bikin bahagia.
5. FOMO Experience > FOMO Jabatan
Dulu gengsi = jabatan, mobil, rumah.
Sekarang gengsi = "Udah ke Labuan Bajo belum?" "Udah nonton konser Coldplay belum?"
Wishlist liburan jadi to-do list hidup. Nggak tercapai = berasa ketinggalan.
Dampaknya ke Dunia Kerja
Perusahaan mulai panik karena:
- Loyalitas Turun: 1-2 tahun resign buat "gap year" keliling Indonesia.
- Nego Gaji Unik: "Gaji boleh UMR, asal dapet cuti 2 minggu buat trip."
- Work-Life Balance Jadi Harga Mati: Kalau lembur terus tanpa libur, langsung cabut.
Tapi ada sisi positifnya: Gen Z jadi pekerja yang kreatif, adaptif, dan punya banyak perspektif dari hasil traveling.
Ini Salah atau Benar?
Nggak ada yang salah. Ini cuma beda prioritas.
Generasi Sebelumnya | Gen Z
Kejar stabilitas dulu | Kejar pengalaman dulu
Tabungan = rumah & pensiun | Tabungan = tiket & hotel
"Kerja dulu baru nikmatin" | "Nikmatin sambil kerja"
Masalahnya cuma 1: kalau nggak ada planning.
Liburan mulu tapi nggak ada skill, nggak ada tabungan darurat = bahaya juga.
Solusi "Jalan Tengah" Ala Gen Z Cerdas
Gen Z nggak harus milih 1. Bisa dua-duanya:
- "Workation": Kerja remote sambil liburan 1 minggu di Lombok. Kerja jalan, healing jalan.
- "Skill Trip": Liburan sambil belajar. Contoh: kursus diving di Raja Ampat, workshop batik di Jogja. Liburan + nambah CV.
- "Tabungan 50/50": 50% gaji buat investasi/karir. 50% buat wishlist trip. Biar nggak nyesel.
- "Liburan Produktif": Konten dari liburan dijadiin duit. Jadi trip-nya balik modal.
Gen Z nggak anti kerja. Gen Z anti kerja yang nggak ada hidupnya.
Bagi mereka, pengalaman > properti. Memori > Jabatan.
Liburan bukan pelarian. Liburan adalah bahan bakar biar tetap waras dan semangat kerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....