Taekwondo Mamuju Berkembang Pesat, Krisis Pelatih dan Wasit Jadi Ancaman

  • 02 Agt 2026 18:27 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, MAMUJU – Popularitas olahraga taekwondo di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, terus melesat. Minat masyarakat hingga sekolah untuk menghadirkan taekwondo sebagai kegiatan ekstrakurikuler bahkan pembelajaran resmi semakin tinggi. Namun di balik pertumbuhan itu, Taekwondo Indonesia (TI) Kabupaten Mamuju menghadapi persoalan serius: krisis sumber daya manusia (SDM) pelatih, wasit, dan penguji.

Persoalan tersebut mengemuka dalam dialog interaktif di RRI Mamuju, Jumat (24/7/2026), yang menghadirkan Ketua Harian TI Kabupaten Mamuju, Walfaidhin.

Menurut Walfaidhin, taekwondo merupakan cabang olahraga bela diri yang telah dipertandingkan di Olimpiade sehingga memiliki prospek besar untuk terus berkembang. Namun, perjalanan membesarkan olahraga tersebut di Mamuju bukan perkara mudah.

"Taekwondo di Mamuju mulai berkembang sekitar tahun 2012. Saat awal berdiri memang banyak tantangan karena olahraga ini belum banyak dikenal masyarakat," ujarnya.

Kini, kondisi itu berbalik. Taekwondo menjadi salah satu cabang olahraga yang paling diminati di Mamuju. Bahkan, Walfaidhin menyebut sebagian besar atlet taekwondo Sulawesi Barat berasal dari Kabupaten Mamuju.

"Alhamdulillah perkembangan taekwondo saat ini di Mamuju sangat pesat. Setengah dari atlet Sulbar berasal dari Mamuju," katanya.

Ia mengungkapkan, hasil pembinaan selama lebih dari satu dekade mulai membuahkan hasil. Sejumlah atlet angkatan awal tetap bertahan dan kini telah bertransformasi menjadi pelatih yang membuka dojang atau tempat latihan sendiri.

"Anak binaan kita sejak tahun 2011 dan 2012 masih konsisten di taekwondo. Mereka sekarang sudah menjadi pelatih dan memiliki dojang masing-masing," ungkapnya.

Meski demikian, tingginya animo masyarakat justru memunculkan tantangan baru. Banyak sekolah meminta agar taekwondo dijadikan kegiatan ekstrakurikuler, bahkan diharapkan menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah.

Sayangnya, keinginan tersebut belum bisa dipenuhi secara maksimal akibat minimnya jumlah pelatih yang tersedia.

"Beberapa sekolah meminta agar taekwondo dijadikan ekstrakurikuler maupun mata pelajaran. Tetapi kendalanya saat ini adalah kurangnya SDM pelatih," jelas Walfaidhin.

Ia menegaskan, kemajuan taekwondo tidak cukup hanya mengandalkan atlet. Dibutuhkan ekosistem yang lengkap, mulai dari pelatih, penguji hingga wasit bersertifikat agar pembinaan berjalan sesuai standar nasional.

"Untuk memajukan taekwondo harus lengkap, ada pelatih, penguji, dan wasit. Dengan begitu kita bisa mencetak penguji nasional karena semua memiliki tingkatan sabuk dan administrasi yang harus dipenuhi," tegasnya.

Walfaidhin juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas perangkat pertandingan. Menurutnya, penyelenggaraan kejuaraan tingkat provinsi hingga antarprovinsi membutuhkan kehadiran wasit nasional agar seluruh pertandingan berjalan sesuai regulasi resmi.

"Kalau ingin menggelar kejuaraan antarprovinsi, tidak bisa hanya mengandalkan wasit daerah. Harus ada wasit nasional agar pertandingan berjalan sesuai standar," pungkasnya.

Sementara itu, Komisi Perwasitan TI Kabupaten Mamuju, Muh. Fajrin, membenarkan bahwa kekurangan SDM paling terasa pada sektor perwasitan. Hingga kini, Mamuju masih minim wasit daerah dan belum memiliki wasit nasional.

"Di Mamuju memang betul wasit sangat kurang, terlebih lagi wasit nasional sama sekali belum ada. Ini menjadi catatan bahwa SDM kita masih sangat terbatas," ujarnya.

Fajrin berharap Pengurus Taekwondo Indonesia Provinsi bekerjasama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Sulawesi Barat dapat kembali menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) Wasit Daerah sebagai upaya penyegaran sekaligus membuka kesempatan bagi calon wasit baru yang memenuhi persyaratan.

"Kita berharap diklat wasit daerah bisa kembali dilaksanakan sebagai refreshing. Bagi yang ingin menjadi wasit daerah juga bisa ikut selama memenuhi kriteria," katanya.

Ia juga mendorong agar tahun depan dapat digelar Diklat Wasit Nasional sehingga Mamuju memiliki kesempatan mengirimkan perwakilan, meski biaya akomodasi menjadi tantangan tersendiri.

"Semoga tahun depan ada diklat wasit nasional sehingga Mamuju memiliki perwakilan untuk mengikutinya, walaupun biaya akomodasinya cukup besar," tuturnya.

Tak hanya wasit, Fajrin juga menilai kebutuhan penguji dan pelatih bersertifikat harus terus ditingkatkan agar kualitas pembinaan atlet semakin baik.

"Penguji daerah harus diperbanyak hingga lahir penguji nasional. Begitu juga pelatih yang sudah mengikuti diklat pelatih daerah harus didorong naik ke jenjang pelatih nasional. Sebab jika SDM kita kuat, saya yakin kualitas taekwondo Mamuju akan semakin maju dan mampu bersaing di tingkat nasional," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....