Gerakan Tanpa Gadget Buktikan Permainan Tradisional Masih Relevan
- 31 Jan 2026 16:46 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Suara tawa riang dan teriakan semangat memenuhi lapangan kompleks di kawasan Jakarta Selatah, bukan berasal dari kompetisi esports, melainkan dari puluhan anak yang asyik bermain egrang dan tarik tambang.
Ini adalah salah satu dari sekian banyak lokasi di mana Gerakan "Ayo Main Tanpa Gadget" digelorakan, membuktikan bahwa geliat permainan tradisional masih hidup dan mampu merebut hati generasi alpha.
Modifikasi Kreatif untuk Generasi Zaman Now
Salah satu inisiator gerakan di Jakarta, Fauziah Nailufar, M.Pd., mengakui bahwa mengenalkan permainan tradisional harus dengan pendekatan yang kreatif.
"Kami tidak serta merta menyodorkan egrang bambu biasa. Kami menghiasnya dengan warna-warna cerah, membuat papan engklek dengan bentuk karakter kartun, dan menyusun aturan bentengan dengan sedikit variasi.
Tujuannya, membuat first impression yang menarik. Dan hasilnya, setelah mereka mencoba, ketawa dan keringatlah yang berbicara. Kecanduan itu terjadi, tapi kecanduan untuk bergerak dan bersosialisasi," jelas Fauziah, berdasarkan pengabdian masyarakat yang dilakukannya (Nailufar et al., 2023).
Dampak Nyata: Motorik Hingga Karakter
Penelitian yang dilakukan oleh Anggita, G. M., dkk., dari Universitas Negeri Semarang (2023), memberikan bukti empiris. Survei terhadap sejumlah anak yang terlibat dalam kegiatan serupa menunjukkan korelasi negatif antara partisipasi aktif dalam permainan tradisional dengan tingkat kecanduan gadget.
"Anak-anak yang rutin terlibat permainan tradisional kelompok menunjukkan peningkatan kemampuan motorik, keterampilan sosial seperti menunggu giliran dan bekerjasama, serta penurunan signifikan dalam frekuensi dan durasi bermain game online. Ini menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan hanya nostalgia, tapi intervensi yang efektif," papar Anggita.
Orang Tua: Dari Pengamat Jadi Peserta
Yang menarik, gerakan ini berhasil melibatkan orang tua bukan hanya sebagai pengantar, tapi juga peserta. Seperti yang diungkapkan Jufrida, M.Pd., dalam program pengabdiannya, "Ketika orang tua ikut bermain cublak-cublak suweng atau balap karung, terjadi dua keajaiban.
Pertama, anak merasa didukung dan senang. Kedua, orang tua mengalami sendiri betapa permainan ini melatih fisik dan memicu tawa. Ini membangun memori positif bersama yang jauh lebih berharga daripada sekadar membelikan gadget terbaru," ujarnya (Jufrida et al., 2021).
Membangun Ekosistem dari Bawah
Gerakan ini juga menyoroti pentingnya peran multi-pihak. Dr. Muhamad Akbar, peneliti pelestarian permainan tradisional di Lakudo, menekankan bahwa taman kanak-kanak dan sekolah dasar adalah benteng utama.
"TK dan SD harus menjadi pusat pelestarian. Guru dapat memasukkan permainan tradisional dalam muatan lokal, bahkan dalam pembelajaran matematika atau bahasa. Event seperti festival permainan tradisional bisa menjadi agenda tahunan. Butuh komitmen dari pembuat kebijakan di tingkat sekolah hingga daerah untuk menyediakan sarana dan mengalokasikan waktu," tegas Akbar (Akbar et al., 2023).
Gerakan "Ayo Main Tanpa Gadget" adalah bukti nyata bahwa melawan arus digitalisasi bukan dengan penolakan, tapi dengan menawarkan alternatif yang lebih manusiawi, sehat, dan sarat nilai.
Upaya kecil di berbagai komunitas ini diharapkan dapat menyulut semangat yang lebih besar, untuk mengembalikan masa kecil yang aktif dan ceria kepada anak-anak Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....