Lima Strategi Konkret dari Psikolog Hidupkan Dunia Anak

  • 31 Jan 2026 16:37 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - "Bu, aku bosan..." Kalimat ini sering diucapkan anak, dan respons insting banyak orang tua adalah: "Nih, main HP dulu." Padahal, menurut psikolog anak, kebiasaan ini justru memperparah ketergantungan.

Lalu, bagaimana cara menciptakan keseimbangan? RRI berdiskusi dengan sejumlah ahli untuk merangkum strategi konkret digital parenting yang bisa diterapkan mulai hari ini.

1. Prinsip "Pengalihan Positif", Bukan Larangan Kaku

Melarang gadget secara total seringkali kontraproduktif. Psikolog keluarga, Utami, S.Psi., M.A., menawarkan pendekatan yang lebih elegan: pengalihan positif.

"Otak anak butuh stimulasi. Saat kita mengambil gadget, kita harus segera menggantinya dengan aktivitas yang sama menariknya, tetapi melibatkan lebih banyak indera dan interaksi. Misal, setelah 30 menit menonton, ajak mereka 'berkebun sensorik' dengan bermain pasir kinetik, playdough, atau air.

Ini memberi otak 'rasa istirahat' yang berbeda dari stimulasi visual berlebih dari layar," jelas Utami, merujuk konsep smart techno parenting (Utami, 2022).

2. Jadikan Permainan Edukatif sebagai "Sekolah Rumah" yang Menyenangkan

Ira Lindayani, M.Pd., praktisi pendidikan anak usia dini, memperkenalkan pendekatan Montessori sebagai alternatif.

"Permainan Montessori seperti menyortir benda berdasarkan warna/ukuran, menuang biji-bijian, atau meronce, fokus pada pengembangan konsentrasi, koordinasi mata-tangan, dan kemandirian.

Aktivitas ini sangat menarik bagi anak karena memenuhi kebutuhan alami mereka untuk bereksplorasi dengan tangan. Ketika anak asyik dengan kegiatan ini, keinginan untuk memegang gadget akan berkurang dengan sendirinya," papar Lindayani, berdasarkan penerapannya di kelas (Lindayani et al., 2025).

3. Konsekuensi dan Keteladanan: Dua Sisi Mata Uang

Penelitian Yanizon, A., dkk. (2019) dan Jeti, L., dkk. (2024) secara konsisten menemukan bahwa aturan tanpa keteladangan adalah sia-sia. "Anda bisa pasang aplikasi pengatur waktu, buat perjanjian.

Tapi jika Anda sendiri tidak bisa lepas dari media sosial di depan anak, maka aturan itu akan dianggap tidak adil. Digital parenting yang efektif dimulai dari orang tua yang mampu mengelola gadget-nya sendiri.

Letakkan gadget di ruang keluarga, bukan di kamar tidur, dan ciptakan 'zona bebas gadget' selama waktu makan dan sebelum tidur," saran Yanizon.

4. Transformasi Pekerjaan Rumah jadi Petualangan

"Anak adalah peniru ulung. Libatkan mereka dalam tugas sehari-hari dengan cara yang fun. Memasak bukan sekadar memasak, tapi eksperimen sains. Membereskan mainan bisa jadi lomba cepat tepat. Dengan ini, anak belajar tanggung jawab, proses, dan merasa dihargai sebagai bagian dari tim keluarga.

Ini jauh lebih memuaskan daripada likes di media sosial," ungkap Stevanus, salah satu peneliti pola asuh digital (Stevanus & Anindyta, 2022).

5. Bangun Jejaring Sosial "Offline" untuk Anak

Novianti, R., peneliti dari Riau, menekankan bahwa lingkungan sosial adalah kunci. "Orang tua perlu aktif merancang interaksi. Buat grup bermain dengan tetangga, ikutkan anak di kelas olahraga atau seni, atau sekadar janjian ke taman setiap akhir pekan.

Pertemanan di dunia nyata memberikan rasa memiliki dan kebahagiaan yang mendalam, yang menjadi penangkal alami terhadap kesepian yang sering 'diobati' dengan gadget," tutur Novianti (Novianti et al., 2020).

Intinya, menurut para ahli, strategi terbaik adalah proaktif menciptakan pengalaman dunia nyata yang begitu kaya dan menyenangkan, sehingga dunia digital hanyalah salah satu bagian kecil, bukan pusat dari kehidupan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....