Ahli Peringatkan Krisis Bermain, Permainan Tradisional Jadi Solusi
- 31 Jan 2026 16:30 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Di tengah gempuran era digital, para pakar pendidikan dan tumbuh kembang anak mengangkat suara mengenai fenomena yang mereka sebut sebagai "krisis bermain" pada generasi muda.
Anak-anak masa kini, menurut observasi, lebih akrab dengan dunia virtual di genggaman tangan daripada petualangan fisik di lingkungan sekitarnya. Situasi ini memicu kekhawatiran serius akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial anak.
Menghidupkan Kembali Warisan yang Hampir Punah
Solusi yang diusung para ahli ternyata tidak rumit dan justru berasal dari akar budaya kita sendiri: permainan tradisional. Dr. Sari Indiyani, M.Pd., salah satu peneliti yang fokus pada media pemberdayaan anak, menjelaskan bahwa permainan seperti cublak-cublak suweng, bentengan, atau engklek memiliki kekuatan multidimensi.
"Permainan tradisional itu adalah paket lengkap. Dari sisi fisik, ia melatih motorik kasar dan halus. Dari sisi kognitif, anak belajar aturan, strategi, dan pemecahan masalah. Yang paling berharga adalah aspek sosial-emosional: di silah anak belajar kerja sama, bernegosiasi, mengelola emosi saat kalah atau menang, dan berempati—sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh karakter di layar gawai," papar Dr. Sari, merujuk penelitiannya (Indiyani et al., 2022).
Lebih dari Sekadar Olahraga, Tapi Sekolah Kehidupan
Prof. Dr. H. Nur, M.Si., pakar pendidikan karakter, menekankan bahwa setiap gerak dan aturan dalam permainan tradisional sarat dengan nilai-nilai luhur.
"Lihat saja permainan gobak sodor. Di dalamnya ada nilai strategi, kecepatan, kerja tim, dan kejujuran untuk mengakui jika tersentuh lawan.
Atau congklak yang mengajarkan kesabaran, penghitungan, dan keadilan. Nilai-nilai seperti sportivitas, tanggung jawab, dan pantang menyerah itu tertanam secara alamiah, bukan melalui ceramah," ujar Prof. Nur, yang telah lama mengkaji hubungan permainan tradisional dan pembangunan karakter (Nur, 2013; Prayitno et al., 2022).
Tantangan dan Seruan untuk Kolaborasi
Meski manfaatnya jelas, menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah gempuran teknologi bukan hal mudah. Dibutuhkan komitmen dan kolaborasi dari berbagai pihak. Anggita, G. M., dkk., dalam penelitiannya (2023), menyoroti pentingnya peran lingkungan.
"Orang tua adalah gerbang pertama. Namun, sekolah dan komunitas harus menjadi ekosistem pendukung. Guru Pendidikan Jasmani bisa mengintegrasikannya dalam kurikulum, sementara pemerintah daerah dapat menyediakan ruang publik yang aman dan mendukung untuk bermain," jelasnya.
Seruan ini jelas: melindungi masa kecil anak dari dampak negatif gawai adalah tanggung jawab kolektif. Dengan kembali ke permainan tradisional, kita tidak hanya menyelamatkan anak-anak dari ketergantungan digital, tetapi juga melestarikan warisan budaya tak benda yang sangat berharga bagi pembentukan identitas bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....