Menemukan “Tuhan” di antara Frekuensi dan Desibel

  • 31 Mei 2026 20:42 WIB
  •  Mamuju
Poin Utama
  • Ibadah haji
  • Teknisi

Catatan Spiritual Seorang Teknisi Siaran RRI di Tanah Suci

RRI.CO.ID, Mamuju - Bagi jutaan jemaah, haji adalah lelahnya langkah di pasir panas, sentuhan Hajar Aswad, dan lautan putih ihram yang mengelilingi Ka’bah.

Tapi bagi teknisi siaran Radio Republik Indonesia, haji punya rasa berbeda. Mereka bertemu Tuhan lewat pendengaran. Di balik meja mixer portable sudut maktab Makkah, atau di tenda gerah Arafah, bait suci itu hadir di antara jalinan frekuensi, tarikan desibel, dan hening di balik headphone.

Dialektika Kebisingan: Memisahkan Noise dan Voice

Gurun Arab saat musim haji bukan tempat sunyi. Ada gemuruh langkah, raungan bus taraddudi, isak tangis jutaan manusia, hingga dengung AC. Di tengah kekacauan akustik itu, tugas teknisi RRI satu: cari “suara kebenaran” yang jernih untuk dipancarkan ke Nusantara.

Saat memutar kenop gain dan menggeser fader, teknisi sejatinya sedang berkontemplasi. Memisahkan noise dan voice. Sama seperti hidup: manusia sering gagal mendengar suara Tuhan karena terlalu bising—ambisi, hiruk pikuk, ego. Menjadi teknisi haji berarti belajar meredam dunia, agar frekuensi spiritual terdengar murni.

Getaran Talbiyah yang Menggetarkan Diafragma

Puncak Wukuf tiba. Di telinga teknisi yang pakai headphone, masuk gelombang dahsyat: _“Labbaik Allahumma Labbaik”_.

Lewat diafragma mikrofon, suara lansia lelah, anak muda menggebu, hingga tangis seorang ibu diubah jadi sinyal listrik. Bagi teknisi, itu bukan lagi bar VU Meter hijau-kuning-merah.

Setiap desibel takbir terasa seperti ketukan di jantung. Air mata mereka sering jatuh duluan, saat kabel XLR di tangan memastikan getaran dari tanah para nabi sampai utuh ke pelosok Indonesia.

Sajadah Berupa Kabel, Jihad Melawan Blank Spot

Di Armuzna, medan tempur teknisi sesungguhnya. Suhu 45°C bikin perangkat overheat. Jutaan jemaah berebut bandwidth.

Saat sinyal drop, keringat dingin mengalir. Mereka tahu: satu detik putus, jutaan keluarga di Indonesia cemas menunggu kabar.

Menggelar kabel di sela tenda, kipas-kipas modem darurat, berdoa agar pemancar Jakarta terima audio tanpa delay—itulah ibadah haji mereka. Sajadahnya lantai penuh kabel. Zikirnya cek frekuensi berkala.

Ketika indikator “ON AIR” menyala hijau lagi dan suara reporter terdengar jernih, di situlah mereka melihat kebesaran Allah. Tuhan hadir dalam bentuk kemudahan teknis setelah pasrah dan kerja keras.

Keikhlasan Tanpa Nama

Siaran lancar, yang dipuji penyiar. Siaran putus sedetik, teknisi yang dicari.

Haji mengajarkan esensi keikhlasan: tak terlihat tapi berdampak besar. Meleburkan ego di balik jargon RRI: _“Sekali di Udara, Tetap di Udara!”_

Pulang dari Tanah Suci, teknisi RRI tak hanya bawa predikat haji. Mereka pulang dengan keyakinan baru: Tuhan tak hanya di tempat sunyi. Ia dekat, di antara miliaran getaran frekuensi dan desibel yang mengagungkan nama-Nya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....