Menjaga Nadi To Mamuju Lewat "Taki Ma’basa Mamuju''
- 30 Jan 2026 08:51 WIB
- Mamuju
RI.CO.ID,Mamuju– Ballroom The Maleo Hotel menjadi saksi sejarah baru bagi pelestarian budaya Sulawesi Barat pada Kamis (29/1/2026). Di bawah sorot lampu dan antusiasme masyarakat, Pemerintah Kabupaten Mamuju resmi meluncurkan buku panduan “Taki Ma’basa Mamuju” (Ayo Berbahasa Mamuju).
Bukan sekadar seremonial, langkah ini adalah pernyataan sikap dari Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH, M.Si, Bupati perempuan pertama di Provinsi Sulawesi Barat, tentang pentingnya menjaga "ruh" identitas orang Mamuju.
Berikut adalah nukilan wawancara mendalam bersama beliau di ruang kerjanya Kamis. (29/1/2026):
Satu Buku, Berjuta Warisan
Wartawan: Ibu Bupati, di tengah gempuran modernitas, apa makna terdalam dari peluncuran buku "Taki Ma’basa Mamuju" ini bagi pemerintah dan masyarakat?
Bupati: "Bagi saya, buku ini bukan sekadar tumpukan kertas berisi kosakata. Ini adalah ihtiyar—sebuah upaya sungguh-sungguh untuk menitipkan kunci identitas kepada generasi mendatang. Ini adalah warisan budaya yang nyata. Kita ingin anak cucu kita tidak merasa asing di tanahnya sendiri karena kehilangan bahasanya. Ini adalah fondasi harga diri kita sebagai To Mamuju."
Bukan Sekadar Program, Tapi Gerakan Hidup
Wartawan: Banyak program pemerintah berhenti setelah peluncuran. Apakah ini akan menjadi akhir dari gerakan pelestarian tersebut?
Bupati: "(Tersenyum tegas) Justru sebaliknya. Ini adalah garis start. Misi besar kami adalah mentransformasi Taki Ma’basa Mamuju dari sekadar program di atas kertas menjadi gerakan hidup. Bahasa itu harus 'bernyawa' di ruang tamu rumah kita, di kantin sekolah, hingga di ruang-ruang publik. Komitmen kami tidak akan berhenti sampai di sini."
Menantang Arus Digital
Wartawan: Bagaimana Ibu melihat tantangan bahasa daerah yang mulai ditinggalkan anak muda?
Bupati: "Kita harus jujur, tantangannya besar. Kuncinya satu: bahasa daerah harus tetap relevan dan 'keren'. Kita harus masuk ke ekosistem mereka—media sosial, musik, hingga konten kreatif. Selain itu, pelestarian ini harus inklusif. Kita merangkul dialek Sumare–Rangas, Padang, hingga Sinyonyoi sebagai kekayaan, bukan untuk diseragamkan. Keberagaman dialek itulah warna asli kita."
Menuju Regulasi "Satu Hari Berbahasa Mamuju"
Wartawan: Langkah strategis apa yang akan diambil untuk memastikan program ini berkelanjutan di sektor pendidikan?
Bupati: "Ini adalah cita-cita saya sejak hari pertama dilantik. Sekarang, melalui Dinas Pendidikan dan Erlangga, mimpi itu mulai terwujud. Ke depan, kami akan memperkuatnya melalui regulasi. Saya ingin ada satu hari khusus menggunakan Bahasa Mamuju—One Day Using Mamuju Language—bagi siswa SD dan SMP. Kami juga akan mengintegrasikannya dengan sektor pariwisata agar tamu yang datang bisa merasakan keunikan budaya kita secara utuh."
Sekomandi dan Identitas Visual
Wartawan: Selain bahasa, bagaimana dengan simbol budaya lain seperti kain Sekomandi?
Bupati: "Sudah berjalan dan akan makin masif. ASN kita sudah wajib mengenakan Sekomandi setiap hari Rabu. Ke depan, kebijakan ini akan kami dorong ke sekolah-sekolah, instansi swasta BUMD, bahkan BUMN di wilayah Mamuju. Kita ingin identitas visual dan bahasa berjalan beriringan."
Pesan Untuk Masyarakat
Wartawan: Apa harapan terbesar Ibu terhadap masyarakat Mamuju melalui gerakan ini?
Bupati: "Kebertahanan bahasa Mamuju adalah tanggung jawab kolektif. Dengan semangat Taki—sebuah ajakan bersama—saya ingin gerakan ini tumbuh secara organik. Mari kita tanamkan kebanggaan pada diri kita: Keren bahasanya, bangga budayanya!"
Penulis : Muhammad Yusuf Panjori