SR Sulbar Mengukir Masa Depan di Tengah Keterbatasan
- 19 Des 2025 09:14 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan sederhana SMK Kakao Kalukku, Mamuju. Yanti, dengan percaya diri memegang mikrofon, menyampaikan pesannya: “Berpikir sebelum bertindak, berpikir sebelum berbicara.”
Kalimat itu bukan sekadar pepatah, tapi kristal dari perjalanan empat bulan dirinya dan 99 siswa lainnya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 21 Mamuju – sebuah program yang mengubah “yang tak mungkin menjadi mungkin”.
Dalam siaran dialog interaktif RRI Mamuju, 17 Desember 2025, terungkap sebuah narasi transformasi pendidikan yang menyentuh akar rumput. Sekolah ini bukan sekadar unit pendidikan baru, melainkan senjata strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam memerangi kemiskinan.
Bapak Idham Halik, Kabid Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Sulbar, dengan jelas memaparkan filosofinya:
“Gubernur Sulawesi Barat begitu menginginkan adanya sekolah rakyat... karena perhatian beliau cukup kuat dalam hal pengentasan kemiskinan. Salah satu jalan untuk melakukan pengentasan kemiskinan itu adalah memperbaiki segi pendidikan orang-orang miskin tersebut.”
Program prioritas nasional di era Presiden Prabowo ini menargetkan keluarga termarjinalkan. Proses rekrutmennya ketat, hanya untuk mereka yang terdata miskin ekstrem (desil 1 dan 2). Verifikasi lapangan oleh pendamping sosial memastikan bantuan tepat sasaran.
“Harus ada pernyataan kesediaan siswa... dan harus bersedia orang tuanya,” tegas Idham.
Di balik pagar SMK Kakao yang dipinjamkan, kehidupan 100 siswa jenjang SMP dan SMA ini berubah total. Bapak Lalu Tuh Hariadi, Kepala Sekolah, menggambarkan fasilitas komprehensif yang diberikan: Mulai dari 8 stel seragam, akomodasi asrama, makan tiga kali plus snack, hingga laptop satu-satu. Mereka yang biasa berebut tempat tidur, kini memiliki ranjang sendiri.
“Dari ujung kaki sampai ujung rambut itu diakomodir di sini,” jelasnya.
Namun, fasilitas fisik hanyalah kulit luarnya. Jiwa program ini terletak pada pendekatan pendidikan yang empatik dan holistik. Banyak siswa datang dengan latar belakang putus sekolah, stigma negatif, dan motivasi pupus. Pembinaan karakter dimulai dari hal dasar: bangun Subuh, salat berjamaah, kultum, hingga hidup bersih. Tak hanya akademik kurikulum merdeka, life skill seperti budidaya ikan, konten kreator, dan kewirausahaan diajarkan.
“Kami menggunakan pendekatan yang empati... di tempat inilah kami coba memberikan perhatian dan kasih sayang yang mungkin selama ini mereka kehilangan,” ujar Lalu Tuh.
Hasilnya mulai terlihat setelah empat bulan. Yanti, salah satu siswa, dengan bahasa yang terstruktur menyampaikan kesannya: Pesannya tentang berpikir sebelum bertindak menunjukkan kedewasaan yang mulai terbentuk.
“Dapat teman-teman di sini, dapat diajak berkomunikasi dengan baik, dapat bersaing secara sehat,” kata Yanti.
Masa depan tampak lebih cerah. Pemerintah berencana membangun gedung permanen yang lebih mewah di Kelurahan Rangas pada 2026, lengkap dengan fasilitas olahraga dan asrama yang memadai. Program pemberdayaan juga akan menyentuh orang tua siswa, memutus rantai kemiskinan dari dua generasi sekaligus.
Sekolah Rakyat di Kalukku adalah lebih dari sekadar bangunan; ia adalah ruang di mana mimpi anak-anak pinggiran diberi panggung. Di sini, keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi tembok pembatas, melainkan batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Seperti disimpulkan Idam Halik, program ini adalah tentang “memuliakan orang miskin dan memungkinkan yang tidak mungkin.” Tepuk tangan dan sorotan mata berbinar para siswa dalam dialog RRI hari itu adalah bukti pertama bahwa misi mulia itu mulai membuahkan hasil.
Reporter : Muh. Ilham