Baca Buku demi Lulus: Solusi atau Beban?"
- 29 Jul 2025 07:24 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Dalam sebuah langkah progresif yang patut diapresiasi, Gubernur Sulawesi Barat mengeluarkan edaran baru yang mewajibkan siswa SMK dan sederajat untuk membaca 20 buku sebagai syarat kelulusan, dengan dua buku wajib yaitu tentang Andi Depu dan Baharuddin Lopa. Langkah ini menjadi sorotan hangat dalam program Ruang Opini Publik RRI Mamuju pagi tadi, dipandu oleh Megapika.
Sejumlah pendengar menyambut kebijakan ini dengan sangat positif. Salah satunya, Pak Salman di Galung Lombok, menyampaikan bahwa program seperti ini seharusnya sudah lama diterapkan, mengingat literasi baca di Sulbar masih rendah.
“Saya dulu pengelola perpustakaan desa. Sekarang, menghadirkan orang datang membaca itu sangat sulit. Padahal membaca itu membuka pikiran,” ungkapnya.
Ia bahkan menyarankan agar bukan hanya 20 buku, tapi ditambah lebih banyak lagi, karena anak-anak tidak boleh takut membaca buku, terutama buku tentang pahlawan lokal.
“Andi Depu dan Baharuddin Lopa itu penting! Anak-anak Sulbar harus tahu sejarahnya sendiri. Misalnya kenapa kerajaan Balanipa tidak memiliki putra mahkota, itu bukan sekadar cerita, tapi bagian dari identitas kita.”
Tanggapan senada juga datang dari Pak Cimin di Rangas. Ia mengapresiasi kebijakan tersebut, tetapi juga mengangkat tantangan nyata: akses buku di pelosok sangat terbatas.
“Budaya baca memang menurun, tapi di pelosok, bagaimana anak-anak bisa membaca kalau buku saja tidak ada?”
Pak Cimin berharap agar program ini tidak hanya berlaku di kota-kota, tapi disertai kebijakan yang menyentuh distribusi buku ke pelosok desa. Menurutnya, akan sangat tidak adil jika kewajiban membaca diberlakukan, tapi fasilitas pendukungnya tidak merata.
Buku Wajib yang Sarat Nilai
Salah satu buku wajib yang ditetapkan adalah tentang Baharuddin Lopa, tokoh Sulbar yang dikenal luas karena ketegasannya dan integritasnya sebagai penegak hukum. Banyak pendengar menilai sosok Baharuddin Lopa sangat layak dijadikan teladan, terutama karena nilai kejujuran yang ia pegang teguh.
“Di zaman sekarang, kejujuran sangat langka. Kalau anak-anak membaca tentang Baharuddin Lopa, mungkin mereka bisa terinspirasi untuk jadi pribadi jujur, kuat, dan berani membela kebenaran,” ujar Megapika saat menanggapi pendapat pendengar.
Kebijakan ini memang bukan tanpa tantangan. Tetapi sebagaimana kata pepatah, perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah pertama. Mewajibkan membaca buku sebagai syarat kelulusan adalah sebuah langkah awal menuju peradaban literat, yang tidak hanya tahu informasi, tetapi juga paham nilai-nilai lokal dan moral.
Sulawesi Barat membutuhkan generasi muda yang berakar pada sejarahnya, dan terbuka pada ilmu pengetahuan. Dan semua itu bisa dimulai dari membuka sebuah buku.
“Mari kita dukung bersama kebijakan ini. Bukan sekadar soal kelulusan, tapi tentang membangun karakter dan kesadaran sejarah bagi anak-anak Sulbar.”(sumber Open AI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....