Belajar dari Adam: Nafsu Terbungkus Nama Sang Ilahi

  • 29 Jun 2025 07:01 WIB
  •  Mamuju

Oleh : Kajian Mutiara Pagi bersama Ustaz Dr. Nursalim Ismail

Dalam kisah penciptaan manusia pertama, Allah memerintahkan Nabi Adam dan Hawa untuk tinggal di surga. Mereka diberi kebebasan penuh untuk menikmati seluruh kenikmatan yang tersedia semuanya dihalalkan, tanpa batas.

“Dan Kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!"

Perintah itu tampak sederhana. Namun dalam narasi besar kehidupan manusia, itulah ujian pertama sebuah ujian tentang ketaatan, tentang kemampuan membedakan perintah sejati dari tipu daya, dan tentang keteguhan menahan hawa nafsu.

Namun sebagaimana diketahui, Adam dan Hawa tetap tergelincir.

Bukan karena membangkang.

Bukan karena kesombongan.

Tapi karena tertipu.

Iblis tidak datang dengan wajah kejahatan yang nyata. Ia tak menyerang secara terang-terangan. Justru ia tampil seolah-olah sebagai penasihat, berbicara dengan nada lembut, dengan segala tipu muslihat.

Dalam kajian Mutiara Pagi, Ustaz Dr. Nursalim Ismail menyampaikan poin penting dari kisah ini:

“Tidak ada sekalipun dalam benak Nabi Adam untuk melanggar perintah Allah. Hanya karena nama Allah disebut, Nabi Adam mengira itu adalah perintah. Dan saat itulah awal ujian dari kehidupan manusia.”

Adam tidak berniat berbuat maksiat. Ia hanya mengira, ajakan itu adalah bagian dari kehendak Allah.

Ia taat, karena salah sangka.

Ia menurut, karena menyangka itu kebenaran.

Dan sejak peristiwa itu, ujian yang sama terus berulang dalam kehidupan manusia hingga hari ini.

Apa yang terjadi pada Nabi Adam sejatinya adalah cerminan dari realitas kontemporer.

Tipu daya saat ini tidak lagi datang dalam rupa yang menyeramkan. Ia justru hadir lewat:

Kata-kata manis

Wajah yang tampak tulus

Bahkan lewat penggunaan nama Allah

Banyak orang menyampaikan dalil, menyebut ayat, atau tampil seolah pembela agama, namun sebenarnya membawa agenda tersembunyi. Ada yang menjual agama demi bisnis pribadi, Menggunakan syariat untuk kepentingan politik, dan Menyelubungi hawa nafsu dengan label ibadah.

Mereka tidak tampak seperti musuh. Bahkan seringkali tampil sebagai kawan, guru, atau pemimpin spiritual. Tapi di balik itu, mungkin tersembunyi jebakan.

Kebenaran Harus Diukur, Bukan Dikira

Peringatan penting datang dari Imam Ali bin Abi Thalib:

“Kebenaran tidak diukur dari siapa yang mengatakannya. Ukurlah kebenaran, maka kamu akan tahu siapa yang benar.”

Pesan ini menjadi peringatan bagi umat: jangan mudah terpesona oleh penampilan. Jangan mudah percaya hanya karena seseorang menyebut nama Allah atau mengutip dalil. Ukur setiap ucapan dengan ilmu. Tapis setiap ajakan dengan hati-hati.

Nabi Adam tidak tergelincir karena ia jahat. Tapi karena ia tak bisa membedakan: mana perintah sejati dari Allah, dan mana ucapan yang hanya menggunakan nama-Nya.

Demikian pula manusia hari ini. Tanpa ilmu, tanpa kehati-hatian, kita mudah terjebak dalam kebaikan palsu. Kesalehan semu yang menyesatkan.

Maka belajarlah. Carilah ilmu. Kenali kebenaran dengan cermat.

Karena tidak semua yang terlihat religius adalah benar.

Dan tidak semua yang menyebut nama Allah, benar-benar membawa cahaya-Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....