Ini Alasan Tidur di Pagi Hari Tidak Disukai dalam Islam

  • 13 Mei 2025 08:30 WIB
  •  Mamuju

KBRN, Mamuju : Sejarah Singkat Tidur di Waktu Pagi Hari Menurut Islam

Dalam ajaran Islam, waktu pagi memiliki nilai yang sangat istimewa. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, pagi hari—khususnya setelah salat Subuh hingga matahari terbit—dipandang sebagai waktu yang penuh berkah dan sebaiknya dimanfaatkan untuk beribadah, berdzikir, atau memulai aktivitas produktif.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang tidak tidur setelah Subuh. Dalam riwayat Muslim, beliau biasa duduk berdzikir hingga terbitnya matahari. Bahkan, beliau pernah mendoakan umatnya agar diberkahi di waktu pagi:

"Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa ini menjadi dasar kuat dalam tradisi Islam untuk menghindari tidur di pagi hari, karena dikhawatirkan bisa menghilangkan keberkahan tersebut.

Para sahabat dan ulama salaf seperti Imam Ibnul Qayyim juga menekankan bahwa tidur pagi dapat membawa dampak negatif, seperti rasa malas, lambatnya rezeki, serta berkurangnya semangat. Dalam karyanya Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pagi adalah waktu untuk membuka pintu-pintu rezeki, bukan untuk tidur kembali.

Meski begitu, Islam adalah agama yang seimbang. Tidur pagi tidak diharamkan, namun sebaiknya dihindari jika tidak ada kebutuhan mendesak seperti begadang karena ibadah atau pekerjaan malam. Sebaliknya, Islam justru menganjurkan tidur siang (qailulah) sebagai bentuk istirahat sunnah sebelum salat Zuhur.

Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa sejak masa awal Islam, tidur pagi bukanlah kebiasaan yang dianjurkan. Umat Muslim didorong untuk mengisi pagi hari dengan aktivitas yang membawa keberkahan dan manfaat, baik untuk dunia maupun akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....