"ICCI" Si Moana dari Mandar Penakluk Lepa-Lepa Race 2025
- 23 Jan 2025 22:13 WIB
- Mamuju
Ombak, Angin, dan Seorang Bocah Perempuan
Di langit Majene, matahari bergeming, menyaksikan puluhan perahu lepa-lepa membelah lautan. Angin berbisik di antara layar-layar yang terkembang, membawa mimpi dan keberanian para pelayar cilik yang beradu cepat di atas gelombang. Di antara mereka, ada satu sosok yang mencuri perhatian—bukan karena ukuran perahunya, bukan pula karena keberingasannya menaklukkan angin, tetapi karena dia satu-satunya perempuan yang berdiri di sana, di tengah gemuruh lautan dan sorak-sorai penonton.
Namanya Nur Fitria, bocah 11 tahun yang kini dijuluki “Moana dari Mandar”. Ia bukan sekadar peserta, melainkan simbol keteguhan dan keberanian. Sejak awal, tak ada yang menyangka bahwa anak perempuan bertubuh mungil ini akan menjadi bintang di antara para pelaut cilik. Namun, saat angin mulai menerpa layar perahunya, saat ombak mulai menggoda keseimbangan kayu yang menopangnya, ia membuktikan bahwa nyali dan kepiawaian tak mengenal batasan gender.
Dua Kali Berlayar, Satu Kali Menjadi Legenda
"Icci" begitu ia akrab disapa, tak hanya berlayar sekali. Ia mengikuti lomba dalam dua kategori: pertama bersama sang ayah, dan kedua bersama Rian peserta Anak - anak lainnya. Berdua, mereka menghadapi laut yang sama, angin yang sama, dan tantangan yang sama. Tetapi Icci bukan sekadar pendamping, ia adalah pattimbang (penyeimbang perahu) yang bertugas memastikan lepa-lepa tetap tegak, menari di atas gelombang tanpa tumbang.
Tangannya cekatan, gerakannya penuh perhitungan. Ia membaca arah angin, menyesuaikan posisi tubuhnya, dan beradaptasi dengan setiap tarikan layar. Seperti laut yang tak bisa didikte, ia pun tak gentar pada batasan. Saat garis finis semakin dekat, di sanalah ia melampaui semua dugaan bocah perempuan ini menjadi juara pertama.
Gema yang Mengubah Pandangan
Sejak dulu, laut adalah milik para lelaki. Begitulah yang dipercaya di banyak tempat, termasuk di tanah Mandar. Dahulu, jika ada perempuan yang ingin berlayar, mereka harus menyamarkan diri menjadi lelaki dengan memakai songkok, bahkan melukis kumis di wajahnya. Namun Icci hadir dengan caranya sendiri. Ia tak perlu menyembunyikan siapa dirinya. Ia melangkah dengan berani, berlayar dengan penuh percaya diri, dan menghapus batas-batas yang dulu ada.
Keberaniannya bukan hanya membuatnya berdiri di podium juara, tetapi juga menciptakan gelombang baru. Setelah perlombaan usai, beberapa anak perempuan lain mulai mencoba naik ke atas perahu. Mereka ingin merasakan angin, ingin meraba gelombang, ingin tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari laut. Dalam sekejap, Icci telah menjadi inspirasi seorang gadis kecil yang tanpa ia sadari telah membuka pintu bagi banyak perempuan lain untuk ikut menjelajah cakrawala.
Warisan di Ujung Ombak
Bagi Icci, laut bukanlah tempat yang asing. Ia lahir di pesisir, dibesarkan oleh ombak, dan diajarkan oleh angin. Meski awalnya tak memiliki perahu sendiri, tekadnya lebih kuat dari keterbatasan. Ia meminjam
perahu pamannya, menyiapkan diri, dan berangkat menantang nasib di atas lepa-lepa. Kini, namanya bergema di antara desiran ombak, menjadi bagian dari kisah yang akan terus diceritakan.
Ketua panitia, para penonton, dan bahkan masyarakat luas tak bisa menyembunyikan rasa bangga mereka. “Icci adalah kebanggaan kami,” ujar Nasa Tammalassu, seorang panitia dengan mata berbinar. “Ia telah membuktikan bahwa keberanian bukan soal usia atau jenis kelamin, tetapi soal hati yang tak gentar menghadapi angin.”
Lepa-Lepa Race tahun ini bukan sekadar perlombaan. Ia telah menjadi panggung bagi lahirnya legenda kecil, yang mungkin suatu hari akan tumbuh menjadi pelaut ulung seperti leluhurnya. Dan siapa tahu? Mungkin kelak, di suatu waktu di masa depan, akan ada lebih banyak Moana dari Mandar yang mengarungi samudra dengan penuh kebanggaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....