Diskoperindag: Tiga Tantangan UMKM di Mamasa

  • 11 Feb 2026 19:06 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Pelaku UMKM tenun di Kabupaten Mamasa menghadapi tiga tantangan utama, yaitu ketiadaan wadah penjualan tetap, kelemahan kemasan, serta rendahnya pemanfaatan media digital.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Mamasa, Andi Armini Mustapha, menyebut selama ini produk tenun lebih sering hanya digantung di stan pameran. Kondisi tersebut membuat nilai jual tenun sulit meningkat karena belum ditopang ruang display tetap seperti rumah kreatif atau galeri Dekranasda.

“Ketika dia sudah di salah satu toko besar pusat oleh-oleh, itu dikemas dalam satu kotak, diikat-ikat, dikasih rapi, itu kan nilainya jadi bertambah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, banyak tenun Mamasa yang kualitas jahitan dan motifnya sudah mampu bersaing, tetapi kemasan masih sederhana dan belum dirancang sebagai produk oleh-oleh premium. Pemerintah daerah menilai peningkatan desain kemasan, penggunaan kotak dan paper bag, menjadi langkah penting menaikkan kelas produk tenun lokal.

“Jadi mengajarkan ketika barang ini mungkin nilainya sebegini, tetapi ketika dia dikemas, dicantik, diberikan paper bag atau kotak, nilainya bisa naik,” kata Andi Armini.

Selain masalah wadah dan packaging, pelaku UMKM tenun juga dinilai masih perlu penguatan literasi digital untuk promosi. Andi Armini menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial dan platform jual beli online agar produk tidak hanya menunggu pembeli di rumah.

Melalui rencana pembentukan inkubator dan Dekranasda, Pemkab Mamasa berupaya menjawab kebutuhan ruang, pendampingan kemasan, sekaligus pelatihan pemasaran digital bagi penenun. Diharapkan, langkah ini mendorong tenun Mamasa lebih dikenal sebagai produk budaya bernilai ekonomi tinggi, baik di tingkat regional maupun nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....