Lipa' Sa'be, Sutera Mandar yang Bertahan di Gempuran Zaman
- 02 Feb 2025 17:41 WIB
- Mamuju
KBRN, Mamuju : Data terkait kerajinan tenun Mandar secara pasti sebenarnya belum ditemukan. Namun pada abad ke-14 saat kerajaan Gowa berhasil menakhlukkan kerajaan Pariaman, perdagangan tenun Mandar ke Pariaman Sumatera Barat telah berlangsung.
Saat ini penenun Mandar semakin berkembang dari segi populasi. Tenun Mandar sendiri dinamakan Lipa’ Sa’be yang berarti sarung sutera. Pada idealnya tenun dibuat dari bahan sutera sehingga dapat disebut Lipa’ Sa’be.
Salah seorang penenun Mandar yang bernama Dina saat dihubungi via telfon pada Minggu 02 Februari 2025 mengatakan bahwa perolehan keuntungan yang didapatkan dari menenun Lipa’ Sa’be cukup besar yaitu berkisar diangka Rp90.000 sampai dengan Rp110.000 perlembarnya dengan ukuran 4 x 1 meter.
Namun Dina mengakui bahwa tidak mudah menjadi penenun Mandar, butuh ketekunan dan kemampuan yang mempuni untuk bisa menjadi penenun Lipa’ Sa’be atau Sarung sutera Mandar yang handal. “Tidak gampang itu mba, bisanya kalau sudah bisa bikin itu biasanya baru satu lembar perbulan yang bisa diselesaikan, sedangkan kalau orang ahli itu satu minggu sudah bisa produksi dua lembar Lipa’ Sa’be.” Pungkasnya.
Dina sendiri mengakui bahwa ia hanya dapat memproduksi 1 lembar sarung sutera Mandar atau Lipa’ Sa’be dalam satu bulan. Baginya, menjadi penenun adalah hal sulit sehingga ia memilih menjadikan profesi tersebut sebagai pekerjaan sampingan dan petani kakao sebagai pekerjaan utama.
Di daerah Mandar tepatnya di Kabupaten Polewali Mandar menjadi daerah pusat produksi tenun sutera mandar ini. Penenun dapat menjual sarung sutera mandar atau Lipa’ Sa’be dimulai dari harga Rp200.000 hingga Rp300.000 perlembar dengan modal awal sekitar Rp50.000.
Ditanya soal mengapa harga sarung sutera dari Mandar ini penjulannya tidak bisa mencapai 1 juta rupiah perpcsnya seperti produk-produk sutera dari daerah lain, Dina mengakui bahwa kualitas sutera yang diproduksi didaerah Mandar saat ini sudah berbeda dengan sutera yang ada pada jaman dulu.
Ia menyebut benang sutera yang dihasilkan saat ini kualitasnya berkurang sehingga tidak dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. “Nda tau itu kenapa di, sekarang benangnya tidak sama mi yang dulu, dulu bagus sekali, kalau sekarang agak sedikit nda bagus mi mba.” Tuturnya
Meskipun kualitas dari kain sutera mandar telah sedikit berkurang namun antusiasme masyarakat masih sangat tinggi untuk dapat memproduksi Lipa’ Sa’be secara besar-besaran.
Dina sendiri terus mengembangkan skil menenunnya dan berharap kedepannya ia bisa memproduksi Lipa’ Sa’be lebih dari satu lembar perbulannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....