Mengenal Job Hugging, Tren Bertahan di Pekerjaan yang Tak Lagi Sesuai demi Rasa Aman
- 15 Sep 2026 09:58 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Generasi Z dan milenial kini menghadapi tantangan baru di dunia kerja: memilih bertahan di posisi yang sebenarnya sudah tidak lagi sesuai dengan keinginan mereka.
Fenomena ini dikenal dengan istilah job hugging, yang menandai pergeseran signifikan dari tren berpindah kerja yang sempat populer pascapandemi.
Job hugging merupakan kondisi ketika seseorang tetap bertahan dalam suatu peran pekerjaan, meski merasa tidak bahagia atau tidak puas dengan pekerjaan tersebut.
Istilah ini berbeda dengan job hopping, yakni kebiasaan berganti pekerjaan secara berkala untuk mendapatkan pengalaman baru, kenaikan gaji, dan perkembangan jenjang karier yang lebih cepat.
Dikutip dari NDTV, job hugging secara sederhana merujuk pada karyawan yang memilih tetap berada di pekerjaan mereka saat ini, meski merasa kurang tertantang, kurang terlibat, atau tidak bahagia, terutama karena rasa takut menghadapi ketidakpastian akibat perubahan peran.
Tren ini menandai pergeseran besar dari lonjakan perekrutan pascapandemi, ketika sering berpindah pekerjaan dulunya dianggap sebagai tanda ambisi dan pertumbuhan karier yang positif.
Dikutip dari News.com.au, kini banyak pekerja lebih memprioritaskan rasa aman dibanding mengejar peluang baru, dan lebih memilih keandalan gaji tetap.
Perilaku ini disebut lebih berkaitan dengan sikap kehati-hatian dibanding soal loyalitas terhadap perusahaan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, karyawan cenderung merasa bahwa mempertahankan peran yang sudah familier lebih aman dibanding mengambil risiko pada peran baru.
Menurut laporan CNBC, ada sejumlah faktor yang mendorong menguatnya tren job hugging. Aktivitas perekrutan telah melambat secara signifikan dan mencapai level terendah sejak 2013, sehingga membuat pekerja secara alami menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil langkah karier.
Ekonomi ketenagakerjaan ZipRecruiter, Nicole Bachaud, turut menyebut bahwa ketidakpastian pasar kerja saat ini mendorong para pekerja mempertahankan posisi yang mereka miliki sekarang.
Psikolog klinis, Dr Kaitlin Harkess, mengingatkan adanya risiko jangka panjang di balik fenomena ini. Meski job hugging dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek lewat stabilitas dan keamanan, dampaknya berpotensi jauh lebih besar dalam jangka panjang.
Dr Harkess menambahkan, dari sudut pandang psikologis, bahaya utama terletak pada semakin lama seseorang bertahan karena rasa takut dan sunk cost, maka semakin besar pula rasa tidak berdaya dan terjebak yang dirasakan.
Gejala kecemasan dan depresi berpotensi meningkat, seiring menurunnya rasa percaya diri, sehingga semakin sulit bagi seseorang untuk beralih dan mengingat bahwa pekerjaan seharusnya bisa memberi makna dalam hidupnya.
Meski begitu, sekadar bertahan di suatu pekerjaan tidak selalu berarti seseorang mengalami job hugging yang tidak sehat.
Menurut Dr Harkess, seseorang bisa saja memilih tetap bekerja di tempat yang sama karena stabilitas yang didapat justru memberi mereka kebebasan untuk fokus pada keluarga atau minat di luar pekerjaan.
Dalam kondisi tersebut, seseorang bersedia menghadapi ketidaknyamanan sambil tetap bergerak menuju hal yang dianggap penting bagi dirinya.
Fenomena job hugging menjadi cermin dari kondisi pasar kerja global yang tengah melambat, sekaligus menunjukkan bagaimana ketidakpastian ekonomi turut membentuk pola perilaku dan kesehatan mental pekerja dari generasi muda.
Job hugging menegaskan pentingnya membedakan antara bertahan di pekerjaan karena pilihan sadar dan bertahan karena rasa takut semata.
Memahami motivasi psikologis di balik keputusan tersebut menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup dan kesehatan mental pekerja dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....