Mengenal JOMO sebagai Kebalikan dari FOMO
- 14 Agt 2026 13:47 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju – Di tengah era media sosial, istilah FOMO atau Fear of Missing Out mungkin sudah tidak asing lagi. FOMO menggambarkan perasaan takut tertinggal ketika melihat orang lain mengikuti tren, menghadiri acara, memiliki barang terbaru, atau menjalani pengalaman yang tidak kita lakukan.
Nah, sebagai kebalikan dari FOMO, muncul istilah JOMO atau Joy of Missing Out. JOMO menggambarkan perasaan nyaman dan bahagia ketika seseorang memilih tidak ikut dalam suatu aktivitas karena memang tidak menginginkannya atau merasa ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan.
JOMO bukan berarti seseorang menjadi antisosial atau tidak peduli dengan lingkungan. Justru, JOMO lebih berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan dan keinginan pribadi, bukan semata-mata karena takut tertinggal dari orang lain.
Contohnya sederhana. Ketika teman-teman mengajak nongkrong, seseorang mungkin memilih tetap di rumah karena ingin beristirahat setelah bekerja atau menghabiskan waktu bersama keluarga, dan keputusan tersebut tidak membuatnya merasa bersalah.
JOMO juga bisa terlihat dari kebiasaan tidak mengikuti semua tren. Tidak membeli barang hanya karena viral, tidak memaksakan diri menghadiri setiap acara, atau mengambil jeda dari media sosial merupakan contoh sederhana ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan pilihan hidupnya sendiri.
Menjalani JOMO juga dapat memberikan ruang untuk lebih fokus pada kehidupan nyata. Waktu yang biasanya digunakan untuk memantau aktivitas orang lain di media sosial bisa dialihkan untuk membaca, berolahraga, menyelesaikan pekerjaan, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Selain itu, JOMO dapat membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Sebab, semakin seseorang memahami bahwa tidak semua pengalaman harus dimiliki, semakin mudah pula menerima bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan, kemampuan, prioritas, dan jalan hidup yang berbeda.
Namun, JOMO bukan berarti menolak semua ajakan atau sengaja menjauh dari lingkungan sosial. Yang lebih penting adalah kemampuan membedakan antara “saya tidak ikut karena memang tidak mau” dan “saya tidak ikut karena sebenarnya ingin, tetapi memilih karena alasan tertentu.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....